Kilau Emas di Tengah Gejolak Saham: Mengapa Investor Pilih ‘Parkir Uang’ di Logam Mulia?

Wamanews.id, 31 Januari 2026 – Di tengah hiruk-pikuk pasar modal yang cenderung bergerak di zona merah awal tahun ini, emas batangan justru semakin memancarkan kilaunya. Ketika instrumen saham mengalami tekanan dan nilai tukar dolar Amerika Serikat terus bergejolak, para pemilik modal tampaknya mulai mengalihkan pandangan mereka ke aset yang lebih stabil.
Per Jumat (30/1/2026), harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan angka yang cukup fantastis di level Rp3.120.000 per gram. Meskipun angka ini mengalami koreksi tipis dibandingkan hari sebelumnya yang sempat menyentuh rekor tertinggi di Rp3.168.000, secara tahunan (year on year), posisi harga saat ini tetap berada di level yang sangat tinggi.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan investasi atau sekadar memantau nilai asetnya, berikut adalah rincian harga emas Antam per 30 Januari 2026 untuk berbagai ukuran:
- Pecahan 1 gram: Rp3.120.000
- Pecahan 5 gram: Rp15.415.000
- Pecahan 10 gram: Rp30.750.000
- Pecahan 50 gram: Rp153.255.000
- Pecahan 100 gram: Rp306.412.000
Koreksi harian yang terjadi dinilai wajar oleh para analis sebagai bentuk ambil untung (profit taking) jangka pendek, namun tren jangka panjang menunjukkan minat pasar yang tetap solid terhadap logam mulia.
Mengapa emas mendadak menjadi primadona saat bursa saham lesu? Pengamat Ekonomi Keuangan dan Perbankan, Sutardjo Tui, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah pola klasik dalam siklus investasi. Menurutnya, ketika ketidakpastian menghantui pasar keuangan global, investor cenderung berpindah dari investasi keuangan (financial investment) ke investasi riil.
“Kenaikan harga emas itu hal biasa. Dalam dunia investasi ada dua pilihan utama: investasi keuangan dan investasi riil. Saat ini, ketika suku bunga dolar bergejolak dan pasar saham tertekan, pemilik modal besar akan mulai menghitung ulang risiko mereka,” ungkap Sutardjo pada Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan, momentum awal tahun sering kali menjadi periode yang berat bagi pasar saham. “Kalau saham turun tajam, orang pasti berpikir ulang. Apalagi ini awal tahun, capital gain (keuntungan selisih harga) belum mungkin terlihat, dividen pun belum ada jadwal pembagiannya,” jelasnya lebih lanjut.
Emas telah lama dikenal sebagai safe haven atau tempat berlindung yang paling aman bagi nilai kekayaan. Dibandingkan dengan menyimpan valuta asing (valas) yang sangat rentan terhadap isu geopolitik dan kebijakan moneter negara lain, emas dianggap memiliki nilai intrinsik yang tidak bisa nol.
Sutardjo Tui menekankan bahwa banyak pengusaha bermodal besar lebih memilih emas karena instrumen ini menawarkan keuntungan tanpa kerumitan operasional. “Pengusaha bermodal besar cari yang untung tapi tidak berkeringat. Emas salah satunya. Mereka ingin dana mereka ‘bekerja’ sendiri tanpa harus terlibat dalam manajemen bisnis yang rumit di tengah situasi pasar yang tidak menentu,” tuturnya dengan lugas.
Karakteristik emas yang jika turun tidak signifikan namun secara jangka panjang hampir selalu naik, menjadikannya “tempat parkir” dana yang ideal. Investor tidak perlu merasa cemas akan kehilangan nilai aset secara drastis dalam waktu semalam, seperti yang sering terjadi pada perdagangan saham atau aset kripto.
Lonjakan harga yang terjadi saat ini sebenarnya mengikuti rumus paling dasar dalam ilmu ekonomi. Sutardjo menegaskan bahwa perilaku kolektif para investor yang secara serempak memburu emas telah menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
“Rumus awalnya sederhana: semakin banyak permintaan, harganya pasti naik,” tegas Sutardjo. Selama ketidakpastian ekonomi global masih membayangi, maka permintaan terhadap emas diprediksi akan tetap tinggi, yang secara otomatis akan terus menyokong posisi harga emas di level premium.
Bagi investor ritel, kondisi ini menjadi pengingat untuk tetap melakukan diversifikasi aset. Memiliki emas dalam portofolio bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah strategi bertahan yang krusial untuk menjaga daya beli di masa depan.





