Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Mahasiswa Geruduk Senayan, Soroti Tunjangan, HAM, hingga Desak Pembentukan Tim Investigasi

Wamanews.id, 4 September 2025 – Pimpinan DPR RI akhirnya menggelar pertemuan dengan perwakilan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan dan sejumlah organisasi mahasiswa lain di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, pada Rabu (2/9/2025) siang. 

Audiensi ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung, setelah serangkaian aksi unjuk rasa besar-besaran di Jakarta dan berbagai daerah yang memprotes kinerja dan kebijakan lembaga legislatif.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Cucun Ahmad Syamsurijal, dan Saan Mustofa, para mahasiswa tampil dengan jaket almamater masing-masing, siap menyuarakan kritik dan tuntutan rakyat.

Agus Setiawan, perwakilan dari Universitas Indonesia (UI), menyampaikan kritik tajam yang menyentuh isu sensitif. Ia menyinggung kabar kenaikan tunjangan anggota dewan yang disimbolkan dengan “joget-joget” di tengah penderitaan rakyat. 

“Di tengah masyarakat rentan menderita, di-PHK, ekonomi lesu, daya beli masyarakat menurun, kok bisa ada wakil rakyat yang justru kabarnya tunjangannya dinaikkan,” ujar Agus. Menurutnya, hal ini membuat hati rakyat sedih dan mempertanyakan empati wakil rakyat.

Agus juga menyoroti janji-janji politik yang seolah hanya berlaku di musim pemilu. “Kami seakan-akan dimanfaatkan di setiap momen pemilunya saja dengan berbagai janjinya. 

Tetapi ketika sudah duduk di kursi yang enak ini, Bapak-bapak, Ibu sekalian, seakan-akan melupakan kami sebagai bagian dari rakyat yang seharusnya diperhatikan,” katanya. Kekhawatiran Agus tidak hanya berhenti di situ, ia juga meragukan narasi “Indonesia Emas 2045” jika para pemimpin tidak kembali mengingat amanah rakyat.

Senada dengan itu, Jili Colin dari Universitas Trisakti, menegaskan bahwa mahasiswa adalah kaum terpelajar yang tidak akan menyalurkan aspirasi dengan cara anarkis. Ia menyoroti tudingan provokator yang merusak semangat perjuangan. “Betul tadi kata saudara dari BEM UI. Bahwasannya beberapa hari belakangan ini mungkin banyak sekali propaganda dari beberapa oknum-oknum provokator untuk mencederai nilai-nilai perjuangan yang kami perjuangkan ini. Itu sangat menghambat kami dalam bergerak,” kata Jili.

Selain kritik, para mahasiswa juga datang dengan tuntutan konkret. Agus Setiawan dari UI mendesak DPR untuk membentuk tim investigasi independen yang bertugas mengusut tuntas berbagai kekerasan yang terjadi sepanjang 25-31 Agustus 2025. 

Ia juga menuntut agar tim ini mengusut dugaan “makar” yang sempat dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto terkait aksi demonstrasi. “Kami ingin tim investigasi ini mengusut tuntas semuanya sehingga apa yang disampaikan Bapak Presiden dapat dibuktikan. Karena kami dari gerakan merasa dirugikan dengan statement tersebut,” ungkap Agus.

Jili Colin juga menambahkan, DPR harus segera menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat dan menghentikan kriminalisasi terhadap mahasiswa dan aktivis. “Hentikan kriminalisasi aktivis dan mahasiswa. 

Jauhkan budaya represifitas terhadap hak-hak kita, selaku mahasiswa dan masyarakat untuk bersuara,” tegasnya. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak akan berhenti berjuang, dan kini DPR dihadapkan pada tantangan besar untuk menanggapi tuntutan yang berani dan transparan.

Penulis

Related Articles

Back to top button