Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Jiwa Nasionalisme Membara: 74,9 Persen Rakyat Indonesia Siap Angkat Senjata Jika Negara Terancam 

Wamanews.id, 13 April 2026 – Di tengah dinamika geopolitik dunia yang kian tidak menentu, semangat patriotisme masyarakat Indonesia justru menunjukkan angka yang sangat signifikan. Sebuah temuan terbaru dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkap fakta bahwa mayoritas warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki kesiapan mental yang tinggi untuk terjun ke medan laga jika kedaulatan negara terancam oleh kekuatan asing.

Hasil riset bertajuk “Evaluasi Publik terhadap Pancasila” ini dipaparkan langsung oleh Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Minggu (12/4/2026). Data ini memberikan gambaran kuat bahwa nilai-nilai Pancasila dan cinta tanah air masih tertanam dalam di sanubari rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Dalam survei tersebut, responden diberikan pertanyaan krusial mengenai sejauh mana kesediaan mereka untuk mempertahankan NKRI dalam situasi konflik bersenjata melawan negara lain. Hasilnya cukup mengejutkan sekaligus membanggakan bagi ketahanan nasional.

“Mayoritas masyarakat, yakni sebanyak 74,9 persen, menyatakan bersedia atau sangat bersedia untuk ikut berperang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Djayadi Hanan dalam keterangannya.

Jika dibedah lebih dalam, angka 74,9 persen tersebut terdiri dari 26,4 persen responden yang menyatakan “sangat bersedia” dan 48,5 persen yang menyatakan “bersedia”. Sementara itu, kelompok yang menyatakan tidak bersedia berada di angka 17,4 persen, dan 4,4 persen menyatakan sangat tidak bersedia. Sisanya, sekitar 3,2 persen, memilih untuk tidak memberikan jawaban.

Menariknya, semangat untuk angkat senjata ini berbanding lurus dengan tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap stabilitas keamanan negara. LSI menemukan bahwa hampir seluruh lapisan masyarakat merasa was-was dengan potensi serangan dari luar.

Data menunjukkan bahwa 90,1 persen responden merasa khawatir dengan ancaman atau serangan dari negara lain terhadap kedaulatan NKRI. Rinciannya, sebanyak 46,9 persen merasa “sangat khawatir” dan 43,2 persen merasa “khawatir”. Sebaliknya, kelompok yang merasa tenang atau tidak khawatir hanya berjumlah sekitar 8,6 persen secara total.

Tingginya angka kekhawatiran ini diduga menjadi salah satu faktor pendorong mengapa keinginan untuk membela negara melalui jalur militer atau angkat senjata tetap menjadi pilihan utama bagi mayoritas penduduk.

Survei yang dilakukan oleh LSI ini tidak dilakukan secara sembarangan. Penulisan data ini melibatkan 2.020 responden yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode multistage random sampling, yang memastikan setiap kelompok masyarakat terwakili secara proporsional.

Adapun kriteria responden adalah warga negara yang telah memiliki hak pilih (berusia 17 tahun ke atas) atau sudah menikah pada saat pengambilan data dilakukan. Proses wawancara dilakukan secara tatap muka oleh petugas lapangan pada periode 4 Maret hingga 12 Maret 2026. Dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen, survei ini menjadi barometer penting bagi pemerintah dan instansi pertahanan dalam memetakan kekuatan sosiopsikologis bangsa.

Djayadi Hanan menekankan bahwa hasil ini adalah bukti nyata bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan telah menjadi energi penggerak bagi rakyat untuk bersatu. Di tengah isu polarisasi yang sering muncul di media sosial, kesamaan pandangan dalam membela negara menunjukkan bahwa fundamental persatuan Indonesia masih sangat kokoh.

“Kesiapan angkat senjata ini menunjukkan bahwa bela negara dianggap sebagai tugas suci oleh sebagian besar warga kita. Ini adalah modal sosial yang sangat besar bagi pertahanan nasional,” pungkasnya.

Hasil survei ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi kementerian terkait, seperti Kementerian Pertahanan, untuk terus memperkuat program-program literasi kebangsaan dan kesadaran bela negara di masa depan. 

Penulis

Related Articles

Back to top button