Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Internasional

Iran Loloskan Tanker Thailand, 2 Kapal Pertamina Masih Terjepit Konflik

Wamanews.id, 26 Maret 2026 – Ketegangan di Selat Hormuz, salah satu jalur urat nadi minyak dunia, kembali menunjukkan dinamika yang mengejutkan. Di tengah blokade yang ketat, Iran dilaporkan memberikan “karpet merah” bagi kapal tanker asal Thailand untuk melintas. Namun, nasib berbeda dialami oleh Indonesia; dua kapal tanker raksasa milik Pertamina hingga kini dilaporkan masih tertahan di wilayah konflik tersebut.

Fenomena ini memicu pertanyaan besar mengenai posisi tawar diplomasi Indonesia di mata Teheran, terutama setelah Iran secara terbuka menyebut Thailand sebagai “teman istimewa” yang berhak mendapatkan jaminan keamanan di jalur pelayaran paling berbahaya di dunia saat ini.

Keberhasilan Thailand meloloskan kapal tankernya menjadi sorotan dunia internasional. Kapal milik Bangchak Corporation tersebut berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman pada Senin (23/3/2026). Kesuksesan ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.

Sihasak mengungkapkan bahwa kunci dari kelancaran tersebut adalah komunikasi diplomatik yang intens. Ia secara langsung meminta bantuan Iran untuk memastikan keamanan armada mereka yang melintasi selat tersebut. Respons Iran pun sangat positif dan personal.

“Mereka merespons bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami memberikan nama-nama kapal yang akan melintas. Iran menyebut bahwa ‘teman memiliki tempat yang istimewa’,” ujar Sihasak dalam keterangannya kepada pers. Status sebagai “teman” inilah yang menjadi kunci bagi Thailand untuk menghindari gangguan militer di tengah memanasnya suhu politik global.

Berbanding terbalik dengan Thailand, dua kapal tanker minyak kebanggaan Indonesia, yakni VLCC Pertamina Pride dan MT Gamsunoro, masih belum bisa keluar dari zona merah. Hingga laporan terbaru pada akhir Maret 2026, kedua kapal tersebut masih terpantau berada di area Teluk Arab atau Teluk Oman, menunggu kepastian untuk bisa melintasi Selat Hormuz.

Pihak Pertamina International Shipping (PIS) melalui akun media sosial resminya memastikan bahwa kondisi seluruh kru dan kapal dalam keadaan aman. Meski demikian, posisi kedua kapal yang tertahan tentu menjadi beban logistik dan risiko operasional yang besar bagi ketahanan energi nasional.

“Hingga saat ini, kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melewati Selat Hormuz. Keduanya dalam kondisi aman dan terus dalam pemantauan intensif,” tulis akun resmi @pertaminainternationalshipping.

Menanggapi situasi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Jalur diplomasi tingkat tinggi sedang ditempuh agar kedua kapal tersebut bisa dikeluarkan dari wilayah konflik secepat mungkin. Isu tertahannya kapal ini bahkan menjadi bahasan khusus dalam rapat-rapat internal Pertamina dan kementerian terkait.

“Kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan. Ini sedang dibahas serius,” kata Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM.

Namun, menyadari bahwa ketidakpastian di Timur Tengah sulit diprediksi, Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah sudah menyiapkan langkah darurat (Plan B). Jika pada akhirnya kedua tanker tersebut tetap tidak bisa melintas, Indonesia telah mengamankan sumber alternatif minyak mentah (crude oil) dari wilayah lain untuk menjaga stok BBM dalam negeri tetap stabil.

“Andaikan pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi masalah yang sangat genting karena stok alternatif sudah aman,” tegas Bahlil.

Kasus ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia mengenai pentingnya pengaruh diplomatik dalam mengamankan jalur logistik energi. Di saat Thailand mampu memanfaatkan hubungan “pertemanan” untuk kepentingan ekonomi, Indonesia kini diuji untuk menunjukkan kekuatan diplomasinya di kancah global.

Selat Hormuz tetap menjadi titik panas yang bisa meledak kapan saja, terutama dengan keterlibatan kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Israel dalam konflik melawan Iran. Bagi masyarakat di Sulawesi Selatan dan wilayah Indonesia lainnya, kepastian pasokan minyak sangat bergantung pada keberhasilan diplomasi di perairan jauh tersebut. 

Penulis

Related Articles

Back to top button