Patriotisme Membara! Ribuan Warga Iran Tinggalkan Turki demi Bela Negara, Mehdi Taremi Siap Angkat Senjata

Wamanews.id, 10 Maret 2026 – Fenomena unik sekaligus mengharukan tengah terjadi di perbatasan antara Turki dan Iran. Di saat konflik bersenjata biasanya memicu gelombang pengungsi yang mencari perlindungan ke negara lain, situasi sebaliknya justru terjadi pada warga negara Iran. Ribuan warga Iran yang tengah berada di Turki dilaporkan berbondong-bondong kembali ke tanah air mereka untuk berdiri bersama bangsa di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pemandangan luar biasa ini terlihat jelas di Gerbang Perbatasan Kapıköy di wilayah Van, Turki Timur. Sejak Selasa (10/3/2026), antrean panjang warga Iran yang ingin menyeberang kembali ke negaranya terus memadat. Mereka meninggalkan kenyamanan dan keamanan di Turki demi memenuhi apa yang mereka sebut sebagai panggilan patriotisme.
Banyak dari warga ini sebelumnya berada di Turki untuk berbagai keperluan, mulai dari berwisata hingga urusan bisnis. Namun, pecahnya konflik membuat prioritas mereka berubah seketika. Kepada media setempat, mereka menyatakan bahwa berada di sisi keluarga dan membela kedaulatan negara jauh lebih penting daripada keselamatan pribadi di luar negeri.
Seorang warga Iran yang diwawancarai oleh CNN Turk di perbatasan menyatakan tekadnya yang bulat. “Mereka menyakiti negara kami dan rakyat kami. Sekarang saya ingin berada di sisi mereka,” ujarnya dengan nada emosional. Baginya, pulang bukan sekadar rindu keluarga, melainkan kewajiban moral. “Saya ingin membantu negara saya semampu saya. Tanah air dan negeri saya adalah yang utama.”
Hal senada diungkapkan oleh wisatawan yang memutuskan memotong masa liburannya. Mereka merasa tidak tenang menikmati pemandangan Turki sementara tanah air mereka sedang dalam bayang-bayang peperangan. “Kami datang untuk berwisata dan ingin tinggal lebih lama, tetapi perang pecah. Sekarang kami pulang untuk mendukung negara kami dan berdiri bersama rakyat kami,” tuturnya.
Tidak hanya sekadar pulang untuk berkumpul dengan keluarga, banyak di antara para pemuda Iran ini yang secara terang-terangan menyatakan kesiapan mereka untuk bergabung dengan angkatan bersenjata. Gerakan ini diperkuat dengan narasi yang viral di media sosial, di mana warga Iran menegaskan bahwa mereka tidak melarikan diri dari konflik.
“Tidak ada yang melarikan diri, semua orang memilih kembali ke negara mereka dan berdiri melawan Israel,” tegas salah satu suara dalam video yang beredar luas di platform digital. Mereka menekankan bahwa posisi Iran saat ini adalah mempertahankan diri dari agresi yang dimulai oleh pihak lawan.
Bahkan, beberapa warga menyebutkan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memenuhi kewajiban wajib militer selama dua tahun yang berlaku di Iran. Semangat bela negara ini seolah menjadi pesan kuat bagi dunia internasional mengenai soliditas warga Iran di tengah krisis.
Kabar yang paling mengejutkan datang dari ikon olahraga Iran, Mehdi Taremi. Penyerang tajam yang kini memperkuat klub Yunani, Olympiacos, dikabarkan siap meninggalkan karier sepak bolanya yang sedang mengilap demi bergabung dengan militer Iran.
Sejak bergabung dengan Thrylos pada musim panas 2025, mantan pemain Inter Milan dan FC Porto ini telah menunjukkan performa luar biasa dengan mencetak 16 gol dan 5 assist dalam 31 pertandingan musim ini. Namun, gemerlap Liga Champions dan kejayaan di Liga Yunani tampaknya tidak cukup untuk menahan Taremi di Eropa saat negaranya dalam bahaya.
“Ini adalah momen di mana negara saya sangat membutuhkan saya. Saudara saya dan rumah saya berada dalam situasi bahaya, dan saya harus berada di sana,” ungkap pemain berusia 33 tahun tersebut.
Keputusan Taremi ini kabarnya membuat Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) khawatir. Pihak federasi dikabarkan mencoba membujuk Taremi agar tetap bertahan di Yunani dengan pertimbangan keamanan dan peran pentingnya sebagai simbol inspirasi melalui prestasi olahraga. Meski demikian, keinginan kuat sang pemain untuk pulang menunjukkan betapa dalamnya rasa nasionalisme yang merasuk hingga ke kalangan pesohor dunia.
Situasi di perbatasan Kapıköy saat ini tetap dipenuhi riuh rendah warga yang mengantre pulang. Fenomena ini menjadi catatan sejarah tersendiri mengenai bagaimana sebuah bangsa merespons ancaman eksternal dengan persatuan yang melampaui kepentingan individu.





