Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

IGRS Bikin Gaduh! Game Dewasa Dilabeli 3+, Komdigi Sebut Rating di Steam Belum Resmi

Wamanews.id, 8 April 2026 – Industri gim tanah air tengah dihebohkan dengan mencuatnya isu Indonesia Game Rating System (IGRS). Keriuhan ini bermula dari temuan sejumlah kejanggalan klasifikasi usia pada platform distribusi gim global, Steam, yang memicu aksi saling tuding antara pemerintah, pengembang (developer), hingga penyedia platform.

Polemik ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan telah meluas menjadi isu kredibilitas sistem rating nasional. Di satu sisi, para pemain (gamer) dan pengembang mengeluhkan klasifikasi yang dinilai tidak masuk akal. Di sisi lain, pemerintah melalui kementerian terkait menegaskan adanya kesalahpahaman publik terkait status rating yang beredar saat ini.

Kritik tajam salah satunya datang dari tokoh senior industri gim lokal, Kris Antoni Hadiputra, yang merupakan CEO Toge Productions. Melalui akun media sosial X pribadinya, ia membedah berbagai anomali klasifikasi yang muncul di laman Steam.

Kris menyoroti bagaimana gim dengan konten seksual dewasa justru mendapatkan label hijau yang diperuntukkan bagi anak usia 3 tahun ke atas. 

Sebaliknya, gim-gim pemenang penghargaan internasional justru dianggap tidak layak edar di Indonesia.

“Indonesia Game Rating System memberi label game dengan konten seksual dewasa sebagai game cocok untuk usia 3 tahun ke atas. Sementara game pemenang penghargaan seperti Clair Obscur dan Metal Gear Solid Delta diberi label tidak layak (Refused Classification),” tulis Kris.

Tak hanya gim luar negeri, gim buatan studionya sendiri yang telah mendunia, A Space for the Unbound, juga terkena dampak klasifikasi yang dinilai tidak proporsional. Gim dengan gaya visual pixel art tersebut mendapatkan rating 18+ hanya karena adegan singkat anak SMA merokok selama 2–3 detik, yang dianggap terlalu ketat jika dibandingkan dengan gim dewasa lainnya yang justru lolos untuk semua umur.

Menanggapi kegaduhan yang kian panas di ruang digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)memberikan klarifikasi resmi. Direktur Pengembangan Ekosistem Digital, Sonny Hendra Sudaryana, menegaskan bahwa label rating yang saat ini muncul di Steam bukanlah hasil klasifikasi final dari pihak IGRS.

Sonny menjelaskan bahwa label tersebut muncul karena sistem internal platform yang berbasis self-declareatau pernyataan mandiri dari pengembang/penerbit gim, bukan melalui proses kurasi resmi oleh tim penilai pemerintah.

“Rating yang beredar tersebut bukan merupakan hasil klasifikasi resmi IGRS dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik,” ujar Sonny. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah label yang ada di platform global tersebut sebelum ada sinkronisasi resmi.

Bagi masyarakat awam, IGRS mungkin terdengar baru. Indonesia Game Rating System (IGRS) adalah sistem klasifikasi usia untuk video gim yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia. Tujuan utamanya adalah memberikan panduan transparan kepada pemain, terutama orang tua, agar dapat memfilter konten yang sesuai dengan tingkat kedewasaan anak.

Berdasarkan regulasi resmi, IGRS membagi gim ke dalam enam kategori utama sebagai berikut:

KategoriDeskripsi UsiaWarna Label
IGRS 3+Semua Umur / BalitaHijau
IGRS 7+Anak-anakHijau
IGRS 13+Remaja AwalBiru
IGRS 15+RemajaBiru
IGRS 18+DewasaMerah
RCRefused Classification (Dilarang Edar)Hitam

Label khusus Refused Classification (RC) diberikan kepada gim yang dianggap melanggar aturan hukum di Indonesia, mengandung unsur pornografi ekstrem, perjudian, atau hal-hal yang bertentangan dengan norma masyarakat Indonesia.

Polemik “rating palsu” ini dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan ekosistem gim nasional. Jika sistem rating tidak berjalan secara akurat dan adil, gim-gim lokal berkualitas tinggi bisa kesulitan menembus pasar domestik karena label usia yang terlalu ketat atau justru salah sasaran.

Para pelaku industri berharap pemerintah segera mempercepat sinkronisasi data dengan platform global seperti Steam agar tidak terjadi lagi tabrakan informasi yang merugikan pengembang maupun konsumen. Literasi digital orang tua juga menjadi kunci utama agar klasifikasi IGRS ini benar-benar berfungsi sebagai pelindung, bukan sekadar hiasan di laman penjualan gim.

Penulis

Related Articles

Back to top button