Gaya Hidup TikTok: Sosiolog Ingatkan Bahaya ‘Penjajahan Digital’ yang Mengancam Kantong dan Mental

Wamanews.id, 10 Februari 2026 – Pernahkah Anda merasa insecure setelah melihat video “A Day in My Life” atau rincian harga outfit seseorang di media sosial? Jika iya, Anda tidak sendirian. Saat ini, media sosial bukan lagi sekadar ruang untuk bertukar kabar, melainkan telah bertransformasi menjadi etalase raksasa yang memajang “gaya hidup sukses” sebagai standar baru di masyarakat.
Fenomena ini menarik perhatian pengamat sosial. Sosiolog Sry Lestari Samosir, menilai bahwa paparan konten yang masif telah melahirkan apa yang disebutnya sebagai “Standar TikTok”. Standar tak tertulis ini mencakup segala hal, mulai dari perawatan kulit (skincare), pakaian harian, hingga cara seseorang menghabiskan waktu luangnya.
Dosen Universitas Negeri Medan tersebut menjelaskan bahwa “Standar TikTok” sering kali diidentikkan dengan barang-barang mewah dan penampilan fisik yang tampak sempurna tanpa cela. Padahal, apa yang tampak di layar sering kali jauh dari realitas kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia.
“Tantangan generasi yang mengonsumsi media sosial itu munculnya standar TikTok. Biasanya identik dengan harga outfit, skincare, dan lainnya,” ujar Sry saat memberikan pandangannya, sebagaimana dikutip pada Selasa (10/2/2026).
Masalah utamanya adalah konten tersebut bersifat terkurasi. Audiens hanya melihat potongan-potongan kecil kehidupan yang sudah dipoles, disunting, dan diberi filter. Tanpa sadar, banyak pengguna terutama generasi muda yang menjadikan potongan kecil tersebut sebagai tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan pribadi.
Sry Lestari Samosir memberikan peringatan keras bahwa fenomena ini merupakan bentuk penjajahan gaya hidup. Jika zaman dulu penjajahan dilakukan dengan senjata, kini penjajahan masuk melalui algoritma dan budaya populer yang perlahan membentuk pola konsumsi masyarakat menjadi lebih konsumtif.
Beberapa dampak negatif yang muncul akibat fenomena ini antara lain:
- Budaya Flexing: Keinginan kuat untuk memamerkan kekayaan atau pencapaian di ruang digital demi validasi.
- Mentalitas Instan: Mengutamakan kepraktisan dan kesenangan sesaat tanpa mempertimbangkan proses panjang.
- Kehilangan Arah: Banyak individu merasa terbelenggu karena berusaha menjadi orang lain dan melupakan identitas aslinya.
“Ini sebenarnya bentuk penjajahan zaman sekarang. Gaya hidup membuat banyak orang semakin terbelenggu dan kehilangan arah,” tegas Sry.
Di tengah absennya aturan khusus dari pemerintah mengenai konten budaya sosial di media sosial, kekuatan untuk menyaring informasi sepenuhnya berada di tangan individu dan unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Sry menekankan bahwa pondasi diri yang kuat adalah kunci utama agar tidak mudah terpengaruh oleh tren yang merusak.
Prinsip utama yang harus ditanamkan adalah: Sesuaikan gaya hidup dengan isi dompet, bukan dengan isi beranda TikTok.
“Masyarakat, khususnya keluarga, harus menanamkan prinsip untuk menyesuaikan isi dompet dengan gaya hidup, jangan memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan,” pesan Sry.
Pendidikan karakter dari orang tua kepada anak menjadi sangat krusial di era digital ini. Anak-anak perlu diajarkan untuk tidak menilai nilai diri seseorang berdasarkan pakaian atau barang yang dikenakan. Menjadi diri sendiri adalah kemewahan yang sebenarnya di tengah gempuran standarisasi media sosial.
Sry juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah apa yang ditampilkan oleh para pembuat konten. “Tidak semua orang yang bermewah-mewahan itu murni hasil keringat kerja kerasnya. Ada banyak hal yang mungkin audiens tidak ketahui di balik itu semua,” pungkasnya.
Dengan literasi digital yang baik dan prinsip hidup yang membumi, diharapkan masyarakat tidak lagi terjebak dalam perlombaan pamer kekayaan yang semu, melainkan lebih fokus pada pengembangan kualitas diri yang autentik.





