Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Rupiah Kian Tertekan, dibayangi Harga Minyak Naik dan Dana Asing Hengkang

Wamanews.id, 26 Oktober 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin (26/10/2026).

Pelemahan tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari global dan domestik, yakni kekhawatiran eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak serta derasnya aliran dana asing keluar dari pasar saham Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp 18.089 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 18.080 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah semakin dalam pada sesi pagi. Pada pukul 09.30 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 18.101 per dolar AS, atau melemah 21 poin setara 0,12 persen.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah masih sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut dia, ketegangan di kawasan tersebut kembali mendorong harga minyak dunia naik hingga menembus di atas 100 dolar AS per barel, yang pada akhirnya menekan mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.

“Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali membuat harga minyak naik di atas 100 dolar per barel,” ujar Lukman yang dikutip oleh Kompas.com.

Selain faktor global, tekanan dari dalam negeri juga turut membebani rupiah. Lukman menyoroti masih berlanjutnya aksi jual investor asing di pasar ekuitas domestik.

Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan net foreign sell atau jual bersih sebesar Rp 1,48 triliun di seluruh pasar (all market) pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026.

“Outflow dana asing di pasar ekuitas domestik juga masih terus membebani,” tuturnya.

Untuk pergerakan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 18.050 hingga Rp 18.150 per dolar AS. Sementara untuk sepekan ke depan, rupiah masih berpotensi berada dalam tren melemah.

Hal ini disebabkan sikap hati-hati investor menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dan rilis sejumlah data ekonomi penting AS lainnya yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi akan dilakukan melalui transaksi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).

Penulis

Related Articles

Back to top button