Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Sering Kewalahan dan Jenuh? Terapkan Konsep Meromantisasi Hidup agar Lebih Bahagia

Wamanews.id, 17 Agustus 2026 – Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat dan tuntutan pekerjaan yang terus menumpuk, mencari ketenangan serta rasa bahagia sering kali terasa sulit dicapai. Siklus harian yang monoton mulai dari bangun tidur, menembus kemacetan, hingga menyelesaikan tumpukan tugas tak jarang memicu rasa jenuh dan kelelahan mental (burnout) bagi sebagian besar masyarakat perkotaan.

Guna mengatasi rasa kewalahan tersebut, tren gaya hidup yang berfokus pada meromantisasi kehidupan sehari-hari kini kian populer dan terbukti secara psikologis mampu menjadi solusi menenangkan.

Pendekatan ini tidak menuntut perubahan besar dalam hidup, melainkan mengajak seseorang untuk secara proaktif mengapresiasi dan menikmati momen-momen kecil yang ada di sekitarnya.

Dengan mengubah cara pandang terhadap hal-hal sederhana, setiap detik rutinitas yang tadinya terasa membebani dapat diubah menjadi pengalaman yang penuh makna dan menyenangkan.

Pakar kesehatan mental menegaskan bahwa tindakan meromantisasi hidup memberikan dampak positif yang nyata terhadap pola pikir dan kondisi emosional seseorang.

Terapis dari Mindpath Health, Angel Vardanyan, LMFT, menjelaskan bahwa konsep ini menjadi kunci penting untuk menjaga konsistensi dan kesehatan mental dalam jangka panjang.

“Romantisasi kehidupan bisa membantu kita mencapai tujuan jangka panjang dengan memberikan penguatan positif pada pikiran dan perasaan kita tentang tugas sehari-hari,” ungkap Angel Vardanyan, dikutip dari Real Simple.

Implementasi dari konsep ini sangat mudah diterapkan dalam aktivitas harian. Sebagai contoh, rutinitas pagi hari seperti bersiap-siap atau berjalan menuju tempat kerja sering kali dianggap sebagai beban berat yang menguras energi.

Namun, jika pendekatan tersebut diubah secara perlahan seperti menyeduh kopi favorit di cangkir kesayangan, mendengarkan siaran podcast kegemaran saat berjalan, serta menikmati embusan angin pagi maka persepsi otak terhadap aktivitas tersebut akan berubah dari sekadar kewajiban menjemukan menjadi momen memanjakan diri (self-care).

Tabel: Perbandingan Sudut Pandang Rutinitas Harian vs Meromantisasi Hidup

Aktivitas HarianSudut Pandang Konvensional (Beban)Sudut Pandang Romantisasi (Kesenangan)
Persiapan Pagi HariTerburu-buru, cemas terlambat, & merasa lelah.Menikmati seduhan kopi favorit & mendengarkan musik/podcast.
Perjalanan ke Tempat KerjaKesal karena kemacetan/keramaian jalan.Mengamati pemandangan sekitar & menikmati udara pagi.
Membersihkan RumahTugas domestik yang membosankan & melelahkan.Menyalakan lilin aromaterapi sambil mendengarkan lagu kesukaan.
Istirahat Istirahat MalamBermain HP hingga larut karena stres.Mengatur pencahayaan hangat, minum teh, & membaca buku.

Secara psikologis, menikmati hal-hal kecil di sekitar memiliki landasan ilmiah yang kuat dalam membentuk kebiasaan positif (positive reinforcement).

Menyisipkan elemen menyenangkan seperti membawa minuman favorit saat berolahraga pagi atau menyalakan lilin aromaterapi sebelum merapikan kamar berfungsi sebagai pemicu (trigger) rasa senang ke dalam tugas yang awalnya terasa membosankan.

Trik neurosains sederhana ini efektif dalam mengusir rasa malas, menciptakan suasana hati (mood) yang stabil sepanjang hari, serta menekan hormon stres atau emosi negatif di tengah tingginya tekanan hidup.

Dengan membiasakan diri meromantisasi hal-hal kecil, seseorang tidak lagi bergantung pada momen-momen besar saja untuk merasa bahagia. Kebahagiaan sejati justru hadir setiap hari melalui kemampuan kita dalam merayakan dan menyikapi rutinitas dengan rasa syukur.

Penulis

Related Articles

Back to top button