IHSG Ambyar 4,20 Persen ke Level 5.594, Akhiri Pekan di Zona Merah Membara

Wamanews.id, 5 Juni 2026 – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada penghujung pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan yang sangat signifikan dan terpaksa ditutup merosot tajam di level 5.594 pada perdagangan Jumat (5/6) sore. Indeks saham domestik ini melemah sebanyak 245,01 poin atau ambyar minus 4,20 persen jika dibandingkan dengan capaian pada sesi perdagangan sebelumnya. Ketakutan pasar terhadap sentimen makroekonomi memicu aksi lepas portofolio secara masif di lantai bursa.
Mengutip data pergerakan pasar dari RTI Infokom, aktivitas perdagangan di lantai bursa terpantau sangat dinamis dan dipenuhi tekanan jual yang tinggi. Para investor tercatat melakukan transaksi dengan nilai kumulatif mencapai Rp31,73 triliun. Adapun volume saham yang berpindah tangan dan diperdagangkan sepanjang hari ini tembus hingga sebanyak 38,04 miliar lembar saham.
Ambruknya IHSG ke level psikologis yang cukup rendah ini menggambarkan dominasi kuat sentimen beruang (bearish) di pasar saham dalam negeri. Berdasarkan data statistik pada penutupan perdagangan kali ini, tercatat hanya ada 108 saham yang mampu bertahan dan bergerak menguat di zona hijau. Sebaliknya, sebanyak 626 saham terkoreksi ke zona merah, dan 81 saham lainnya memilih bergerak stagnan alias tidak mengalami perubahan nilai.
Kondisi memprihatinkan ini semakin dipertegas oleh performa seluruh sektor indeks yang kompak melemah tanpa terkecuali. Dari seluruh sektor yang memerah, sektor transportasi menjadi lini yang menderita hantaman paling parah sekaligus memimpin kejatuhan massal bursa domestik dengan koreksi tajam mencapai minus 5,75 persen.
Tabel: Raport Performa Bursa Saham Global dan Regional Akhir Pekan
| Kawasan / Negara | Indeks Saham Pilihan | Performa Persentase | Status Zona Perdagangan |
| Indonesia | IHSG | Melemah 4,20% | Zona Merah Membara |
| China | Shanghai Composite | Melemah 0,74% | Zona Merah |
| Jepang | Nikkei 225 | Melemah 1,31% | Zona Merah |
| Singapura | Straits Times | Melemah 0,40% | Zona Merah |
| Hong Kong | Hang Seng Composite | Melemah 1,15% | Zona Merah |
| Jerman | DAX | Menguat 0,26% | Zona Hijau |
| Inggris | FTSE 100 | Menguat 0,29% | Zona Hijau |
| Amerika Serikat | Dow Jones | Menguat 1,73% | Zona Hijau |
Jika menilik pergerakan bursa asing di kawasan regional, bursa saham di kawasan Asia terpantau bergerak dominan di zona merah, senada dengan nasib yang dialami oleh IHSG. Tercatat, indeks Shanghai Composite di China merosot sebesar 0,74 persen, disusul oleh indeks Straits Times di Singapura yang minus 0,40 persen. Pelemahan lebih dalam juga menerpa indeks Nikkei 225 di Jepang yang turun 1,31 persen, serta indeks Hang Seng Composite di Hong Kong yang tergerus minus 1,15 persen.
Kondisi berbeda justru diperlihatkan oleh pasar modal di belahan barat. Mayoritas bursa saham di Eropa terpantau mampu mendarat dengan aman dan menguat secara tipis. Data menunjukkan indeks DAX di Jerman berhasil menguat 0,26 persen dan indeks FTSE 100 di Inggris terdongkrak plus 0,29 persen.
Senada dengan Eropa, pasar ekuitas Amerika Serikat terpantau dominan berada di zona hijau yang segar. Indeks S&P 500 dilaporkan menguat sebesar 0,41 persen, sementara indeks industrial legendaris Dow Jones melesat naik hingga 1,73 persen. Sayangnya, indeks teknologi NASDAQ Composite gagal menyelaraskan langkah dan tergelincir tipis sebesar minus 0,09 persen di akhir sesi.
Divergensi arah pergerakan pasar antara bursa Asia yang tertekan hebat dan bursa Barat yang menguat disinyalir terjadi karena adanya perbedaan respons pelaku pasar global terhadap isu ketegangan geopolitik dan rilis data ekonomi regional masing-masing negara.







