Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Opini

Ramai Memilih Duta, Sepi Program Nyata

Wamanews.id, 8 Mei – Di berbagai daerah, pemilihan duta semakin menjamur. Mulai dari Duta Wisata, Duta GenRe, Duta Anak, Duta Bahasa, hingga berbagai gelar representatif lainnya hadir hampir setiap tahun.

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan hal yang positif: daerah mulai memberi ruang lebih besar kepada anak muda untuk tampil, berkembang, dan membawa identitas budaya daerahnya.

Sebagai praktisi branding dan media yang banyak berinteraksi dengan komunitas kreatif dan anak muda daerah, saya melihat ajang-ajang seperti ini memiliki potensi yang sangat besar. Bukan hanya sebagai kompetisi seremonial, tetapi juga sebagai wadah pembentukan karakter, kepemimpinan, komunikasi publik, hingga representasi wajah generasi muda daerah.

Banyak anak muda yang awalnya hanya mengikuti ajang duta, kemudian berkembang menjadi public speaker, penggerak komunitas, kreator konten, bahkan aktivis sosial di daerahnya masing-masing. Ini tentu menjadi nilai positif yang patut diapresiasi.

Namun di balik gemerlap panggung, selempang, dan euforia malam grand final, ada satu pertanyaan yang menurut saya penting untuk mulai dibahas secara serius: setelah terpilih, lalu apa? Inilah titik lemah yang masih banyak ditemukan di berbagai ajang duta daerah hari ini.

Energi besar dihabiskan pada proses seleksi dan malam puncak acara, tetapi program pasca pemilihan justru minim arah dan keberlanjutan.

Banyak duta yang akhirnya hanya aktif pada masa karantina dan seremoni, lalu perlahan menghilang tanpa program nyata yang berkelanjutan. Padahal, para duta ini memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi perpanjangan tangan pemerintah daerah karena dekat dengan generasi muda, aktif di media sosial, memiliki kemampuan komunikasi publik, serta mampu membangun pendekatan yang lebih humanis kepada masyarakat.

Sayangnya, sinkronisasi antara program duta dan program pemerintah masih terlihat lemah. Sebagai contoh, Duta GenRe sebenarnya dapat menjadi corong kampanye kesehatan remaja, pencegahan stunting, hingga edukasi perencanaan masa depan bersama BKKBN dan dinas terkait.

Duta Anak bisa menjadi penyambung suara anak-anak daerah. Duta Wisata dapat menjadi ujung tombak promosi pariwisata dan UMKM lokal melalui media digital.

Tetapi di banyak tempat, keterlibatan mereka justru berhenti setelah mahkota dan selempang diberikan. Menurut saya, hal ini terjadi karena sebagian program duta masih diposisikan sebagai event tahunan, bukan sebagai bagian dari strategi komunikasi pembangunan daerah.

Padahal jika dikelola lebih serius, program duta bisa menjadi investasi sosial jangka panjang. Pemerintah daerah sebenarnya memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem “youth ambassador” yang benar-benar aktif bekerja selama satu tahun penuh dengan program yang jelas dan terukur.

Bayangkan jika setiap duta: memiliki roadmap kerja tahunan, dibina langsung oleh OPD terkait, dilibatkan dalam kegiatan resmi pemerintah, menjadi host edukasi digital, turun langsung ke sekolah dan komunitas, serta memiliki target dampak sosial yang nyata.

Maka ajang duta tidak lagi hanya menjadi panggung prestise, tetapi benar-benar menjadi ruang pengabdian dan pengaruh positif bagi daerah.

Saya percaya, anak muda daerah hari ini sebenarnya punya kapasitas besar untuk menjadi wajah perubahan. Mereka kreatif, komunikatif, dan dekat dengan masyarakat digital.

Yang masih kurang hanyalah ruang, arah, dan kepercayaan untuk dilibatkan lebih serius dalam pembangunan daerah.

Karena pada akhirnya, nilai seorang duta tidak hanya diukur dari siapa yang berdiri di atas panggung saat malam final, tetapi dari seberapa besar dampak yang mampu mereka hadirkan setelah lampu acara dimatikan.

Penulis: Chaly, Praktisi Bisnis Kreatif dan Pengembangan Anak Muda Daerah

Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis dan di luar pandangan redaksi wamanews

Penulis

Back to top button