Sulsel ‘Darurat’ Pertalite? Warga Rela Antre Selepas Tahajud, Antrean Kendaraan Mengular 1 KM!

Wamanews.id, 30 Maret 2026 – Pemandangan tak lazim menghiasi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam beberapa hari terakhir. Bukan sekadar antrean biasa, ribuan warga di Kabupaten Sinjai, Bone, Enrekang, hingga Bulukumba dilaporkan rela mengantre sejak subuh demi mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang kian sulit didapat.
Pantauan di lapangan pada Minggu (29/3/2026) menunjukkan kendaraan roda dua maupun roda empat mengular hingga 1 kilometer ke jalan raya. Durasi tunggu yang mencapai 2 hingga 3 jam pun menjadi pemandangan harian yang melelahkan bagi masyarakat.
Di Kabupaten Sinjai, kepanikan warga mulai terasa di SPBU Balangnipa, Kecamatan Sinjai Utara. Seorang warga berinisial AT (33) mengungkapkan bahwa dirinya tiba di SPBU sekitar pukul 06.30 WITA, namun barisan kendaraan sudah memanjang hingga 1 km.
“Kejadian ini sudah berlangsung sejak tiga hari sebelum Lebaran. Saya tadi antre 3 jam lebih hanya untuk dapat 4 liter Pertalite. Seandainya ada yang jual eceran 15 ribu per liter pun saya beli, daripada harus antre lama begini,” keluh AT dengan nada frustrasi.
Bahkan, menurut Mauluddin (29), warga lainnya, saking takutnya tidak kebagian stok, beberapa rekannya nekat membawa kendaraan ke SPBU sesaat setelah melaksanakan salat Tahajud. “Kalau lambat sedikit saja, antreannya sudah tidak masuk akal panjangnya,” tambahnya.
Kondisi serupa terjadi di Bumi Arung Palakka. Di Kota Watampone, hampir seluruh titik pengisian BBM dipenuhi kendaraan. Titik-titik seperti SPBU Jalan Jenderal Ahmad Yani, SPBU Palakka, hingga SPBU di pinggiran seperti Lappariaja dan Lamuru, terpantau mengalami kepadatan yang sama.
Didik (27), salah satu warga Kota Watampone, menyebutkan bahwa kesulitan mendapatkan bensin ini sudah dirasakan selama empat hari terakhir. “Semua Pertamina di kota begini kondisinya. Harusnya pemerintah cepat turun tangan supaya pasokan kembali lancar dan kami tidak habis waktu di jalan hanya untuk antre bensin,” cetusnya.
Bergeser ke arah utara, SPBU Massemba di Kabupaten Enrekang menjadi sasaran ‘serbuan’ warga karena posisinya yang strategis sebagai gerbang masuk kota. Kasat Lantas Polres Enrekang, AKP Muh Ali, bahkan harus menerjunkan personel untuk mengatur arus lalu lintas yang mulai macet akibat antrean kendaraan sepanjang 1 km.
Faisal, warga setempat, menduga fenomena ini dipicu oleh kepanikan warga (panic buying) setelah mendengar berita eskalasi konflik di Timur Tengah. “Warga sepertinya takut BBM bakal hilang atau naik drastis karena dampak perang global yang melibatkan Iran dan Houthi, jadi mereka berlomba-lomba mengisi tangki sampai penuh sebagai stok,” jelas Faisal.
Menanggapi fenomena ini, Sales Branch Manager Sulsel II Fuel Pertamina, Muhammad Ridho Hasbullah, menegaskan bahwa pasokan BBM sebenarnya berada dalam kondisi terjaga. Ia mengonfirmasi bahwa pola yang terjadi di Sinjai dan Bone murni merupakan dampak dari panic buying.
“Masyarakat terpengaruh oleh pemberitaan global. Ditambah lagi, saat ini adalah akhir pekan di mana banyak wisatawan yang bergerak pulang setelah liburan Lebaran, sehingga permintaan meningkat secara bersamaan,” jelas Ridho.
Pertamina berkomitmen untuk terus memantau distribusi secara intensif dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar penyaluran tepat sasaran. Ridho juga menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan normal agar antrean di SPBU dapat segera terurai.
Kini, warga Sulsel berharap janji ketersediaan pasokan tersebut segera terealisasi di lapangan agar aktivitas ekonomi dan mobilitas pasca-Lebaran tidak terganggu oleh ‘drama’ antrean bensin.







