Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Internasional

Sinyal Bahaya $100 per Barel: Konflik Iran-Israel-AS Mulai “Cekik” Pasokan Minyak Dunia

Wamanews.id, 2 Maret 2026 – Dunia kini tengah menahan napas. Bukan hanya karena dentuman rudal dan sirine perang di Timur Tengah, tetapi juga karena bayang-bayang krisis ekonomi yang mulai nyata. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) kini resmi mengguncang pasar energi global, dengan laporan terbaru menunjukkan lonjakan harga minyak mentah yang merangkak naik menuju angka psikologis $100 per barel.

Lonjakan ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Para pemimpin regional di Timur Tengah telah melayangkan peringatan keras kepada Washington mengenai dampak ekonomi dan politik yang menghancurkan jika harga minyak terus melambung tinggi. Berdasarkan catatan riset dari RBC Capital Markets, ambang batas $100 per barel kini menjadi ancaman mendesak yang bisa memicu inflasi global tak terkendali.

Kecemasan pasar saat ini terpusat pada satu titik geografis yang sempit namun sangat vital: Selat Hormuz. Jalur air ini merupakan urat nadi utama yang menghubungkan produsen minyak Teluk dengan pasar global. Bayangkan saja, hampir 20 juta barel per hari minyak mentah melewati selat ini dalam kondisi normal.

Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa perusahaan minyak dan gas raksasa, pedagang besar, hingga operator tanker mulai menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz. 

Hal ini terjadi setelah kapal-kapal di wilayah tersebut menerima peringatan VHF yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, yang menyatakan bahwa jalur tersebut tidak lagi diizinkan untuk dilalui secara bebas.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat bahwa seluruh ekspor LNG dari Qatar dan UEA sekitar 20% dari perdagangan LNG global harus melewati selat ini tanpa ada jalur alternatif yang memadai. Jika selat ini ditutup total, dunia akan menghadapi kekosongan energi yang sangat masif.

Di tengah situasi genting ini, harapan sempat tertuju pada OPEC+ untuk menambah produksi demi menstabilkan harga. Namun, para analis pasar memberikan catatan skeptis. Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memiliki kapasitas cadangan, konsentrasi kekuatan produksi yang hanya bertumpu pada dua negara ini membatasi seberapa cepat pasar bisa merespons gangguan besar.

Pasar saat ini lebih banyak bergerak berdasarkan premi risiko. Artinya, kenaikan harga yang terjadi sekarang didorong oleh rasa takut akan eskalasi konflik di masa depan, bukan karena hilangnya pasokan secara fisik di lapangan. Namun, ketakutan ini sangat nyata; premi asuransi perang bagi pemilik kapal kini meroket, dan banyak angkatan laut negara barat memperingatkan bahwa mereka tidak bisa menjamin navigasi yang aman di koridor Teluk.

Dampak dari krisis di Selat Hormuz ini dipastikan tidak akan merata secara global. Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa Asia akan menjadi wilayah yang paling menderita jika pasokan melalui Hormuz terhenti.

KomoditasPersentase yang Ditujukan ke Pasar Asia
Minyak Mentah & Kondensat84%
Liquefied Natural Gas (LNG)83%

Negara-negara importir energi utama seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan berada dalam posisi yang sangat rentan. Sementara itu, Amerika Serikat mungkin tidak terlalu bergantung secara fisik pada aliran minyak dari Selat Hormuz dibandingkan dekade lalu, namun AS tetap akan terkena hantaman inflasi dan kenaikan biaya transportasi global yang dipicu oleh harga minyak dunia.

Helima Croft dari RBC memperingatkan bahwa jika konfrontasi ini terus berlanjut dan berubah menjadi perang terbuka melawan Iran, harga di atas $100 per barel bukan lagi sekadar prediksi, melainkan keniscayaan.

Jika eskalasi ini terbukti singkat, pasar mungkin bisa kembali ke fundamental dasarnya. Namun, dengan perubahan perilaku pengiriman dan meningkatnya ketegangan militer, masalah ini telah berkembang dari sekadar isu energi menjadi krisis makroekonomi yang lebih luas. Dunia kini hanya bisa berharap diplomasi mampu mendinginkan suhu di Timur Tengah sebelum ekonomi global benar-benar “terbakar”.

Penulis

Related Articles

Back to top button