Nyawa Melayang karena Pena: Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Tamparan Keras Pendidikan RI

Wamanews.id, 3 Februari 2026 – Di tengah hiruk-pikuk narasi kemajuan bangsa dan besarnya anggaran pendidikan nasional, sebuah kabar memilukan datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang bocah berusia 10 tahun, YBS, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, dilaporkan mengakhiri hidupnya. Pemicunya sungguh menyesakkan dada: ia diduga depresi karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena yang harganya bahkan tidak sampai Rp10.000.
Tragedi ini bukan sekadar berita duka biasa, melainkan cermin retak bagi sistem perlindungan sosial dan pendidikan di Indonesia. Bagaimana mungkin di negara dengan anggaran pendidikan mencapai 20% dari APBN, seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena alat tulis?
YBS tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan. Ibunya, MGT (47), adalah seorang janda yang berjuang sendirian menghidupi lima orang anak dengan bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Sang ayah telah berpulang sejak YBS masih dalam kandungan, meninggalkan beban finansial yang teramat berat bagi MGT.
Saking sulitnya kondisi ekonomi mereka, keluarga ini bahkan tidak mampu untuk tinggal bersama di bawah satu atap. Untuk mengurangi beban makan di rumah, YBS terpaksa tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana di tengah kebun.
“Jangankan untuk membeli perlengkapan sekolah, untuk bisa berkumpul bersama anak-anak di satu gubuk pun kami tidak sanggup,” tutur MGT dengan nada getir saat menceritakan kondisi keluarganya.
Bagi sebagian orang, uang Rp10.000 mungkin hanya seharga satu gelas kopi instan di kota besar. Namun bagi keluarga MGT, uang tersebut adalah angka yang sulit digapai. Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, YBS sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena. Namun, sang ibu terpaksa menolak karena memang tidak ada uang sepeser pun di kantongnya.
MGT mengenang pertemuan terakhirnya dengan sang putra. Ia sempat menasihati YBS agar tetap rajin bersekolah meskipun kondisi mereka sedang sulit. Ia mencoba memberi pengertian kepada anaknya tentang alasan mengapa permintaan sederhana berupa buku tulis belum bisa ia penuhi.
Di mata warga desa, YBS dikenal sebagai anak yang pendiam, rajin belajar, dan tidak pernah mengeluh. Sifatnya yang tertutup membuat orang-orang di sekitarnya tidak menyadari bahwa bocah sekecil itu sedang memikul beban psikologis yang begitu hebat akibat kemiskinan yang mendera.
Tragedi ini memicu reaksi keras dari Senayan. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menyebut peristiwa ini sebagai sebuah penghinaan terhadap hak asasi manusia dan hak pendidikan anak.
“Ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Seorang anak SD kehilangan nyawanya bukan karena perang atau bencana alam, melainkan karena ketidakmampuan membeli alat tulis. Ini sungguh tidak dapat diterima,” tegas Esti dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Senada dengan Esti, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarief, mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk segera melakukan investigasi menyeluruh. Ia menduga adanya kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan di daerah tersebut.
Habib Syarief mempertanyakan ke mana perginya anggaran pendidikan yang besar jika kebutuhan dasar seperti buku dan pena masih gagal terpenuhi bagi siswa miskin.
“Ini potret buram dunia pendidikan kita. Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar terpenuhi tanpa kecuali. Kami meminta Kemendikdasmen mengusut apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran atau justru ada kelalaian sistemik di lapangan,” ujar Habib.
Berikut adalah poin-poin yang menjadi sorotan DPR terkait kasus ini:
- Efektivitas KIP: Apakah Kartu Indonesia Pintar (KIP) sudah menjangkau anak-anak di pelosok terdalam NTT?
- Deteksi Dini Psikososial: Mengapa pihak sekolah dan pemerintah daerah gagal mendeteksi adanya siswa yang mengalami tekanan mental akibat kemiskinan ekstrem?
- Prioritas Belanja Pegawai vs Belanja Siswa: Apakah anggaran lebih banyak terserap untuk birokrasi ketimbang pemenuhan alat bantu belajar langsung bagi siswa?
Tragedi YBS di NTT adalah pengingat pahit bahwa kemiskinan bisa membunuh harapan sebelum ia sempat mekar. Negara tidak boleh hanya hadir dalam angka-angka statistik pertumbuhan, tapi harus hadir di dalam tas sekolah setiap anak Indonesia.







