Sering Lupa? Jangan Panik, Kenali Bedanya Lupa Biasa dengan Gejala Demensia

Wamanews.id, 27 Januari 2026 – Menjadi tua adalah sebuah kepastian, dan seiring bertambahnya usia, tubuh kita mengalami banyak perubahan termasuk daya ingat yang mungkin tidak lagi setajam saat masa muda. Kita mungkin pernah lupa di mana menaruh kunci motor, kacamata, atau sesekali mendadak buntu saat mencoba mengingat nama teman lama.
Situasi ini sering kali memicu kekhawatiran: “Apakah saya mulai pikun?” atau “Apakah ini gejala awal Alzheimer?”
Kabar baiknya, tidak semua sifat pelupa adalah tanda penyakit serius. Para ahli menekankan bahwa perubahan kognitif tertentu merupakan bagian alami dari proses penuaan. Namun, sangat penting bagi kita untuk memahami di mana garis batas antara penurunan kognitif akibat usia dan demensia. Mengenali perbedaannya sejak dini bukan hanya soal diagnosis, tetapi soal menjaga kualitas hidup di masa depan.
Menurut Stephanie Nothelle, seorang dokter geriatrik dan associate professor di Johns Hopkins School of Medicine, garis merah yang menandai peralihan dari gangguan kognitif ringan ke demensia adalah ketika gangguan tersebut mulai menghambat fungsi sehari-hari.
“Garis pentingnya adalah ketika gangguan tersebut mulai mengganggu aktivitas harian seseorang,” ujar Dr. Nothelle.
Dalam konteks nyata, ini berarti seseorang tidak lagi mampu mengemudi karena sering tersesat di rute yang sudah dikenal puluhan tahun, atau mendadak bingung melakukan tugas sederhana yang biasa mereka kerjakan setiap hari. Jika perubahan kognitif sudah membuat hidup terasa sulit, itulah alarm yang harus diwaspadai.
Demensia sendiri adalah istilah payung untuk berbagai gangguan kognitif seperti Alzheimer, demensia vaskular, dan Parkinson. Selain masalah ingatan, ada beberapa gejala fisik yang sering kali luput dari perhatian namun merupakan indikator kuat adanya demensia.
Berikut adalah enam gejala fisik yang perlu Anda kenali:
1. Gangguan Keseimbangan dan Cara Berjalan
Berjalan mungkin terlihat sederhana, namun otak sebenarnya bekerja sangat keras untuk memproses input dari mata, telinga, dan saraf di kaki agar tubuh tetap tegak.
“Kemampuan menjaga keseimbangan membutuhkan banyak tenaga otak,” jelas Dr. Nothelle. Kesulitan berjalan, sering limbung, atau jatuh tanpa sebab yang jelas bisa menjadi indikator otak mulai kesulitan memproses informasi sensorik.
2. Perubahan Postur dan Langkah yang Menyeret
Pernah melihat seseorang berjalan lebih lambat dengan kaki yang menyeret? Jori Fleisher dari Rush University Chicago menyebutkan bahwa gejala ini sering dikaitkan dengan demensia badan Lewy atau penyakit Parkinson. Perubahan postur tubuh yang membungkuk secara tiba-tiba juga harus diwaspadai.
3. Perubahan pada Indra Perasa dan Penciuman
Jika seseorang tidak lagi bisa mencium bau masakan yang terbakar di kompor, padahal orang lain di rumah merasakannya, ini adalah tanda serius. Meskipun masalah sinus atau pasca-COVID bisa menjadi penyebab, perubahan indra penciuman yang tak dapat dijelaskan sering kali berhubungan dengan degenerasi saraf otak.
4. Kesulitan Menelan (Disfagia)
Demensia juga memengaruhi koordinasi otot untuk menelan. Dr. Nothelle memperingatkan risiko makanan atau minuman “masuk ke saluran yang salah”. Jika cairan masuk ke paru-paru, hal ini bisa memicu infeksi paru-paru (pneumonia aspirasi) yang sangat berbahaya bagi lansia.
5. Sulit Menahan Buang Air Kecil
Mengontrol kandung kemih membutuhkan kerja saraf yang kompleks. Seiring perkembangan demensia, saraf-saraf tersebut mengalami degenerasi, sehingga penderita sering kali mengalami kesulitan menahan buang air kecil atau inkontinensia.
6. Perubahan Pola Tidur yang Drastis
Perhatikan jika pasangan atau orang tua Anda sering berteriak, memukul-mukul, atau banyak bergerak saat tidur. Ini dikenal sebagai gangguan perilaku REM.
“Hal ini bisa muncul bertahun-tahun sebelum seseorang didiagnosis Parkinson atau demensia badan Lewy,” tambah Dr. Fleisher.
Meskipun sulit untuk menerima adanya penurunan kesehatan kognitif, mengabaikan gejala bukanlah solusi. Diagnosis dini memberikan kesempatan bagi pasien untuk mendapatkan pengobatan yang tepat guna memperlambat perkembangan gejala. Selain itu, keluarga dan pengasuh memiliki waktu lebih banyak untuk mempersiapkan rencana perawatan dan lingkungan yang aman bagi orang terkasih.
Penting untuk diingat bahwa setiap individu unik. Faktor lingkungan, gaya hidup, dan latar belakang kesehatan berperan besar. Jadi, jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala-gejala di atas, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan dokter saraf atau spesialis geriatri.





