Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Belajar dari Kisah Pilu Aurelie Moeremans: Waspada Bahaya ‘Online Grooming’ yang Mengintai Anak di Medsos

Wamanews.id, 13 Januari 2026 – Pengakuan mengejutkan datang dari aktris sekaligus penyanyi berbakat, Aurelie Moeremans. Melalui bukunya yang berjudul Broken Wings, Aurelie secara terbuka mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjadi korban grooming saat masih berusia 15 tahun. 

Kisah memilukan ini menjadi alarm keras bagi para orang tua bahwa ancaman predator anak tidak hanya ada di lingkungan fisik, tetapi juga semakin masif di dunia digital atau media sosial.

Dalam ceritanya, Aurelie mengisahkan pertemuannya dengan seorang pria dewasa berusia 29 tahun yang ia samarkan dengan nama Bobby. Proses manipulasi tersebut dimulai sejak pertemuan mereka di lokasi syuting iklan. Bobby perlahan-lahan mulai membangun kedekatan hingga akhirnya mampu mengontrol hampir seluruh aspek kehidupan Aurelie yang kala itu masih di bawah umur.

Apa Itu Grooming dan Bagaimana Modusnya?

Child grooming adalah proses manipulasi di mana seseorang membangun hubungan, rasa percaya, dan koneksi emosional dengan seorang anak untuk tujuan buruk. Psikolog Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., menjelaskan bahwa inti dari grooming adalah adanya intensi untuk mengeksploitasi atau melakukan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

“Intinya ada intensi buruk untuk memanipulasi atau melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak,” ujar Farraas sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Minggu (11/1/2026).

Seiring berkembangnya teknologi, grooming tidak lagi terbatas pada interaksi tatap muka. Media sosial kini menjadi gerbang utama bagi para pelaku (sering dikaitkan dengan pedofilia) untuk mendekati korban. Modusnya sangat halus; dimulai dari pesan pribadi (Direct Message) atau komentar yang tampak perhatian dan tidak berbahaya.

Pelaku akan terus memberikan perhatian secara konsisten hingga anak merasa “spesial” dan sangat memercayai pelaku. Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku akan mulai meminta foto pribadi atau informasi sensitif. Banyak orang sering menyalahkan korban dengan dalih “anaknya juga mau,” padahal menurut Farraas, rasa mau tersebut adalah hasil dari manipulasi psikologis yang sistematis.

Ada alasan psikologis mengapa online grooming sangat efektif. Banyak anak yang merasa tidak nyaman, kurang perhatian, atau tidak diterima di dunia nyata. Mereka kemudian menggunakan media sosial sebagai pelarian untuk menciptakan identitas baru yang dianggap lebih menarik.

Ada kecenderungan anak-anak berusaha terlihat lebih dewasa melalui gaya berpakaian atau riasan demi mendapatkan validasi berupa pujian. Kondisi inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk masuk memberikan pujian berlebihan yang selama ini dicari oleh sang anak.

Orang tua harus peka terhadap perubahan kecil pada anak. Melansir dari Layanan Polisi Irlandia Utara, berikut adalah beberapa indikator yang perlu diwaspadai:

  • Perubahan Perilaku Drastis: Menghabiskan waktu sangat banyak atau justru tiba-tiba menjauh dari gawai.
  • Sangat Tertutup: Anak bersikap sangat defensif atau rahasia saat ditanya mengenai apa yang mereka lakukan di internet.
  • Menerima Hadiah Misterius: Memiliki barang atau hadiah yang asal-usulnya tidak jelas.
  • Hubungan dengan Orang Jauh Lebih Tua: Memiliki teman dekat atau kekasih dengan jarak usia yang sangat jauh (seperti kisah Aurelie).
  • Bahasa Seksual: Menggunakan istilah atau bahasa seksual yang tidak lazim untuk usia mereka.
  • Kondisi Emosional Tidak Stabil: Terlihat cemas, stres, menarik diri, atau depresi tanpa alasan yang jelas.

Kasus Aurelie Moeremans menjadi pelajaran berharga bahwa pengawasan orang tua adalah kunci. Memberikan gawai kepada anak bukan berarti membiarkan mereka mengakses segala hal tanpa batas. Farraas menegaskan bahwa orang tua tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap tren media sosial.

“Jangan kayak udah semua anak punya TikTok, biarin aja lah punya TikTok. Nah, itu harus dijagain juga,” tegasnya.

Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua adalah:

  1. Tetapkan Aturan Jelas: Tentukan durasi penggunaan gawai dan aplikasi apa saja yang boleh diakses.
  2. Gawai Pinjaman: Berikan pemahaman bahwa gawai tersebut adalah milik orang tua yang dipinjamkan, sehingga orang tua berhak melakukan pengecekan berkala.
  3. Bangun Komunikasi Terbuka: Pastikan anak merasa nyaman bercerita kepada orang tua tentang siapa saja teman barunya di dunia maya tanpa merasa akan langsung dimarahi.

Kesadaran akan bahaya grooming harus terus digaungkan. Belajar dari Broken Wings milik Aurelie, luka akibat manipulasi masa kecil butuh waktu lama untuk sembuh. Mari kita jaga buah hati dari predator digital yang bersembunyi di balik layar ponsel. 

Penulis

Related Articles

Back to top button