Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Wajo

Warga Geruduk Bendungan Paselloreng, Bakar Ban & Segel Pagar Tuntut Ganti Rugi Lahan

Wamanews.id, 2 Agustus 2025 – Gelombang kemarahan warga kembali memuncak di Bendungan Paselloreng, Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo. Pada Kamis (31/7/2025), puluhan warga yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Independen Wajo Bersatu (AMI WB) menutup total akses utama ke lokasi proyek strategis nasional tersebut. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes keras atas belum dibayarkannya ganti rugi lahan mereka.

Dalam aksi yang berlangsung panas tersebut, massa terlihat membakar ban dan menyegel pagar bendungan dengan spanduk-spanduk tuntutan. Penutupan akses ini praktis melumpuhkan seluruh aktivitas operasional di bendungan yang selama ini menjadi tulang punggung pengairan wilayah Wajo.

“Kami sudah muak dijanji terus. Lahan kami diambil, penghidupan kami dirampas, tapi hak kami tidak diberikan,” teriak Pak Ambo, salah satu orator aksi dari Desa Arajang, dengan nada geram. Ia menegaskan bahwa penutupan akan terus berlangsung sampai ada kejelasan dan penyelesaian konkret dari pihak berwenang. Janji-janji kosong yang terus dilayangkan tanpa ada realisasi membuat kesabaran warga habis.

Selain menuntut pembayaran ganti rugi lahan, massa aksi juga membawa tuntutan lain yang lebih serius. Mereka mendesak agar Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tanah 1 segera dicopot dari jabatannya. Kedua pejabat tersebut dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dan telah gagal dalam menyelesaikan konflik agraria ini secara adil dan transparan.

“Mereka sudah gagal, harus mundur! Kepala Balai dan PPK Tanah 1 tidak layak lagi duduk di kursi jabatan,” tegas Ichal, juru bicara AMI WB. Ia menyoroti lambatnya penanganan masalah ini yang sudah berlangsung sejak lama, padahal lahan warga telah digunakan untuk pembangunan Daerah Irigasi (DI) Paselloreng.

Aksi penyegelan ini menunjukkan betapa seriusnya masalah yang dihadapi warga. Tanpa adanya ganti rugi, mereka kehilangan mata pencaharian, sementara proyek terus berjalan dan mendatangkan manfaat bagi pihak lain. Warga merasa keadilan tidak berpihak pada mereka.

Hingga berita ini diturunkan, aksi penutupan akses oleh warga masih berlangsung dan melumpuhkan seluruh aktivitas di Bendungan Paselloreng. Sementara itu, pihak BBWS Pompengan Jeneberang dan pemerintah daerah setempat belum memberikan tanggapan resmi terkait aksi penutupan yang kian memanas ini.

Warga menegaskan akan terus melakukan aksi demonstrasi hingga tuntutan mereka dipenuhi. 

Mereka juga mengancam akan membawa masalah ini ke tingkat yang lebih tinggi, menuntut pemerintah pusat untuk turun tangan jika tidak ada penyelesaian konkret dalam waktu dekat. Konflik berkepanjangan ini menjadi cerminan dari kompleksitas masalah agraria dalam proyek pembangunan skala besar dan menunjukkan pentingnya penyelesaian yang adil dan transparan bagi semua pihak yang terlibat.

Penulis

Related Articles

Back to top button