Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Cuaca Dingin Mencekam & Flu Merajalela: Benarkah Penyebabnya Fenomena Aphelion?

Wamanews.id, 19 Juli 2025 – Dalam beberapa waktu terakhir, banyak masyarakat merasakan tubuh kurang fit. Berbagai keluhan seperti flu, badan meriang, hingga sensasi suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya mendadak menjadi hal umum. Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan di benak banyak orang: apakah ada kaitan dengan fenomena alam tertentu?

Ternyata, kemunculan gejala-gejala penyakit ini secara massal bukanlah hal baru dan memiliki penjelasan yang menarik, bahkan melibatkan fenomena astronomi. Setiap tahun, Bumi memang mengalami momen ketika jaraknya dari Matahari berada pada titik paling jauh. 

Fenomena langit ini dikenal dengan sebutan Aphelion.” Pada tahun 2025 ini, momen Aphelion diperkirakan terjadi pada bulan Juli dan kembali menjadi sorotan banyak pihak, terutama setelah banyak orang mulai merasakan dampaknya pada kesehatan dan suhu lingkungan. 

Aphelion sendiri adalah fenomena astronomi tahunan di mana posisi Bumi berada pada jarak terjauhnya dari Matahari dalam lintasan orbitnya yang berbentuk elips. Peristiwa ini adalah bagian dari pergerakan alami Bumi sebagai salah satu planet di tata surya kita.

Istilah Aphelion berasal dari bahasa Yunani, yakni kata “apo” yang berarti “jauh” dan “helios” yang berarti “Matahari.” Secara sederhana, Aphelion menggambarkan titik ketika Bumi mencapai jarak paling jauh dari Matahari dalam perjalanannya mengelilingi pusat tata surya kita.

Meskipun terdengar seperti ironi, fenomena Aphelion ini justru biasanya terjadi saat belahan Bumi utara memasuki musim panas, yaitu sekitar bulan Juli, dengan jarak Bumi mencapai sekitar 152 juta kilometer dari Matahari. Ini berbanding terbalik dengan fenomena Perihelion yang terjadi pada bulan Januari, di mana jarak Bumi ke Matahari berada di titik terdekat, sekitar 147 juta kilometer.

Menurut situs astronomi In The Sky dan berbagai sumber lainnya, fenomena Aphelion pada tahun 2025 ini diperkirakan terjadi mulai tanggal 4 Juli 2025 sekitar pukul 02.54 WIB, dan kemungkinan efeknya bisa terasa hingga bulan Agustus.

Fenomena inilah yang disebut-sebut menjadi pemicu utama di balik munculnya penyakit-penyakit seperti flu, badan meriang, dan suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. 

Akibat dari jarak yang lebih jauh dari Matahari, suhu Bumi cenderung mengalami penurunan, udara terasa lebih dingin, dan banyak orang melaporkan gejala ringan seperti flu, lemas, atau menggigil.

Khususnya di daerah tropis seperti Indonesia, tubuh kita cenderung lebih sensitif dan mudah bereaksi terhadap perubahan suhu mendadak. Fenomena Aphelion, meskipun bukan penyebab langsung dari penurunan suhu ekstrem, dapat memengaruhi pola sirkulasi cuaca, tekanan udara, dan kelembapan secara drastis. 

Banyak pakar meteorologi dan astronomi menyebut kondisi ini sebagai efek tidak langsung dari Aphelion yang berkontribusi pada perubahan iklim mikro di permukaan Bumi. Penting untuk dicatat bahwa perubahan suhu akibat Aphelion ini memang bukan satu-satunya penyebab langsung seseorang jatuh sakit. 

Namun, kondisi udara yang lebih dingin dan perubahan drastis dalam pola cuaca dapat memperburuk daya tahan tubuh, terutama saat musim pancaroba atau cuaca sedang tidak menentu. Saat kekebalan tubuh melemah, virus flu dan penyakit saluran pernapasan lainnya akan lebih mudah menyerang.

Oleh karena itu, di tengah fenomena Aphelion ini, masyarakat diimbau untuk lebih menjaga kesehatan. Perbanyak istirahat, konsumsi makanan bergizi, minum air putih yang cukup, dan kenakan pakaian hangat saat suhu udara terasa dingin. Dengan begitu, tubuh akan lebih siap menghadapi perubahan iklim dan tetap sehat di musim Aphelion ini.

Penulis

Related Articles

Back to top button