Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Wajo

Wajo Dikepung Kekeringan Ekstrem: 22 Ribu Jiwa Terdampak Krisis Air Bersih

Wamanews.id, 12 Oktober 2026 -Dampak fenomena El Nino dan kemarau berkepanjangan di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, kian mencapai titik yang mengkhawatirkan. Laporan mutakhir dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wajo mengonfirmasi bahwa krisis air bersih kini telah meluas secara masif dan mengepung 48 desa atau kelurahan yang tersebar di 11 kecamatan di wilayah tersebut.

Bencana kekeringan ini dilaporkan telah berdampak langsung pada sedikitnya 7.067 Kepala Keluarga (KK) atau setara dengan 22.044 jiwa warga lokal. Masyarakat di puluhan desa tersebut kini kehilangan akses terhadap air bersih setelah sumur-sumur galian, aliran sungai, dan berbagai sumber air permukaan yang menjadi sandaran hidup sehari-hari mengering total.

Kondisi paling kritis salah satunya terpantau di Kampung Baru, Desa Nepo, yang berada di wilayah perbatasan Kecamatan Tanasitolo dan Majauleng. Di kawasan pesisir ini, Danau Tempe yang biasanya menjadi tumpuan utama kehidupan domestik warga justru mengalami penyusutan volume air secara drastis hingga surut sejauh 3 kilometer dari garis batas normalnya.

Akibat menyusutnya air danau, sisa air yang ada di area terdalam menjadi sangat dangkal, keruh, dan bercampur lumpur sehingga sama sekali tidak layak dikonsumsi. Krisis ini berdampak langsung pada sedikitnya 900 jiwa warga Desa Nepo yang terpaksa harus memutar otak dan berhemat secara ekstrem demi memenuhi kebutuhan sanitasi dan konsumsi harian mereka.

Kendati demikian, fenomena alam mengeringnya Danau Tempe ini memunculkan pemandangan unik di mana dasar danau berubah menjadi hamparan daratan yang luas. Sebagian warga pesisir memanfaatkan momentum temporal ini untuk beralih profesi sejenak dengan menanami dasar danau yang mengering dengan komoditas sayuran dan jagung berumur pendek demi menjaga ketahanan pangan keluarga.

Merespons status tanggap darurat kekeringan yang kian meluas ini, langkah penanggulangan terintegrasi segera digulirkan secara lintas sektor. Berdasarkan data rekapitulasi akhir, otoritas terkait berhasil merampungkan misi kedaruratan dengan mendistribusikan total 1,75 juta liter air bersih ke titik-titik pemukiman warga yang paling parah terdampak.

Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Wajo, Rismawan, merincikan teknis penutupan masa penyaluran bantuan tersebut.

“Untuk hari terakhir, terdapat 105 KK dengan jumlah 398 jiwa terdampak yang menjadi sasaran distribusi. Air bersih yang disalurkan sebanyak 25.000 liter menggunakan lima unit mobil tangki,” jelas Rismawan.

Tidak hanya pihak BPBD, aparat kepolisian dari Polres Wajo turut turun langsung ke lapangan guna mempercepat proses distribusi air darurat. Otoritas kepolisian mengerahkan kendaraan taktis Water Cannon berkapasitas 6.000 liter untuk menyalurkan air bersih secara langsung (direct-to-citizen) kepada ratusan warga yang telah mengantre dengan jeriken kosong di Kampung Baru, Desa Nepo.

Mewakili unsur kepolisian, Wakapolres Wajo menegaskan bahwa pergerakan armada ini murni didasari atas misi kemanusiaan.

“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian Polri kepada masyarakat. Kami berharap air bersih yang disalurkan dapat membantu meringankan kebutuhan warga di tengah kondisi kemarau,” tuturnya.

Komitmen kepolisian dalam menangani bencana ini juga diperkuat oleh pernyataan Komandan Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel, Kompol Rudi Mandaka, S.H.

“Kami bersama Tim Terpadu Pemerintah Kabupaten Wajo akan terus berupaya membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih. Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dan kehadiran Polri di tengah masyarakat, terutama bagi warga yang terdampak kekeringan,” tegasnya.

Langkah serupa juga digalang oleh personel TNI dari Kodim 1406/Wajo. Komandan Kodim (Dandim) 1406/Wajo, Letkol Inf Harianto, S.I.P., menginstruksikan jajaran Babinsa untuk bergerak serentak menyalurkan air bersih ke 10 desa dan kelurahan rawan di tiga kecamatan.

“Kami mendapat laporan masih ada warga yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Maka kami bergerak serentak menyalurkan air bersih. Ini adalah bentuk kepedulian TNI, kami harus hadir saat rakyat kesulitan,” ungkap Letkol Inf Harianto.

Namun, di tengah masifnya pergerakan bantuan logistik tersebut, riak ketidakpuasan sosial sempat mencuat di kalangan masyarakat pesisir. Sejumlah petani dan nelayan lokal melayangkan kritik tajam karena menilai Pemerintah Kabupaten Wajo kurang peka terhadap penderitaan riil warga, mengingat di saat puncak krisis air melanda, jajaran pemda dinilai tetap memprioritaskan konsentrasi anggaran dan fokus seremonial untuk menggelar agenda tahunan Festival Danau Tempe.

Penulis

Related Articles

Back to top button