“Kerja Lembur Bagai Kuda”? Waspada, 37 Juta Pekerja Indonesia Terancam Penyakit Mematikan Akibat Overwork

Wamanews.id, 26 Januari 2026 – Di tengah tuntutan ekonomi yang semakin tinggi, bekerja lembur atau mengambil jam kerja tambahan sering kali dianggap sebagai bentuk dedikasi dan profesionalisme. Namun, di balik ambisi mengejar target dan produktivitas, ada ancaman kesehatan yang mengintai secara perlahan namun mematikan. Fenomena overwork atau kelelahan kerja kronis kini menjadi isu krusial yang membayangi jutaan pekerja di Indonesia.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), fenomena ini bukanlah isapan jempol belaka. Tercatat sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka ini mencakup sekitar seperempat dari total angkatan kerja nasional. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang rentan terhadap krisis kesehatan masyarakat akibat kelelahan kerja.
Dampak dari jam kerja yang berlebihan tidak hanya sekadar rasa lelah di mata atau pegal di punggung. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan peringatan keras bahwa bekerja lebih dari 55 jam per minggu berkaitan erat dengan peningkatan risiko stroke dan penyakit jantung koroner.
Dokter penyakit dalam dari Mount Sinai, dr. Danielle Qing, menjelaskan mekanisme bagaimana stres kerja merusak tubuh. “Ketika tubuh mengalami stres terus-menerus karena pekerjaan yang tidak ada habisnya, hormon seperti kortisol dan adrenalin akan diproduksi secara berlebih. Ini akan memberikan beban berat pada sistem kardiovaskular kita,” jelasnya.
WHO bahkan mencatat bahwa setiap tahunnya, ratusan ribu kematian secara global berkaitan langsung dengan stres kronis dan jam kerja yang tidak manusiawi. Hal ini menjadikan overwork sebagai salah satu pembunuh senyap di dunia modern.
Selain jantung, sistem organ lain juga turut terdampak. Psikolog Adam Borland dari Cleveland Clinic memberikan perumpamaan yang menarik mengenai kapasitas manusia. “Tubuh kita itu seperti mobil dengan tangki bensin yang terbatas. Jika terus dipaksa berjalan tanpa istirahat dan tanpa pengisian ulang energi, performa mesin akan menurun dan risiko kerusakan permanen pada komponennya akan meningkat,” ujarnya.
Beberapa keluhan fisik yang sering muncul akibat overwork meliputi:
- Gangguan Tidur: Kesulitan mematikan pikiran dari pekerjaan saat hendak beristirahat, memicu insomnia kronis.
- Masalah Pencernaan: Stres memengaruhi kerja saluran cerna, menyebabkan perut kembung, sembelit, hingga sindrom iritasi usus.
- Daya Tahan Tubuh Menurun: Tubuh yang lelah kehilangan kemampuan untuk melawan virus dan bakteri, membuat pekerja mudah terserang infeksi.
- Masalah Muskuloskeletal: Nyeri leher dan punggung bawah akibat postur duduk yang buruk selama belasan jam di depan layar.
Dampak overwork tidak berhenti di fisik saja. Psikolog klinis Randy Simon menyebutkan bahwa tanda bahaya paling nyata dari kelelahan kerja adalah ketidakmampuan seseorang untuk menikmati waktu luangnya. Ketika seseorang merasa bersalah saat berlibur atau pikirannya terus tersedot ke arah pekerjaan di saat bersama keluarga, itu adalah sinyal bahwa kesehatan mental sedang terancam.
Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu kecemasan, depresi, hingga burnout (kelelahan emosional total). Pekerja yang mengalami hal ini cenderung menarik diri dari lingkungan sosial dan kehilangan motivasi hidup, yang pada akhirnya justru menurunkan produktivitas yang awalnya ingin dicapai.
Data BPS juga menyoroti aspek geografis dan ekonomi yang cukup ironis. Provinsi dengan tingkat pekerja overworktertinggi berada di Gorontalo, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur, di mana lebih dari 30 persen pekerjanya bekerja di atas 49 jam seminggu.
Sangat disayangkan, jam kerja yang panjang ini tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Masih banyak ditemukan daerah dengan jam kerja tinggi namun rata-rata upah buruhnya masih di bawah Rp 3 juta per bulan. Hal ini menegaskan bahwa overwork di Indonesia bukan sekadar masalah individu yang sulit mengatur waktu, melainkan masalah struktural dalam ekosistem dunia kerja di mana beban kerja tidak sebanding dengan kompensasi yang diterima.
Para pakar kesehatan sepakat bahwa produktivitas sejati bukanlah tentang seberapa lama seseorang berada di kantor, melainkan tentang kemampuan menjaga keseimbangan antara kerja, istirahat, dan perawatan diri.
Jika Anda mulai mengalami gejala kelelahan berkepanjangan yang tidak hilang dengan tidur satu malam, mudah tersinggung, atau kehilangan minat pada hobi yang biasanya disukai, itulah saatnya untuk mengevaluasi batasan kerja Anda. Jika kondisi tetap tidak membaik meski sudah mencoba beristirahat, bantuan profesional dari psikolog atau konselor sangat dianjurkan untuk mencegah dampak yang lebih fatal.







