Guncang Pasar Minyak! Iran ‘Filter’ Selat Hormuz: Kapal AS-Israel Dilarang Melintas, Harga Brent Tembus US$ 103

Wamanews.id, 16 Maret 2026 – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan keras terkait akses pelayaran di Selat Hormuz. Jalur urat nadi energi dunia tersebut kini tidak lagi bebas bagi semua negara. Teheran secara resmi menerapkan kebijakan “blokade selektif” yang secara spesifik menyasar armada laut milik Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud menutup total jalur strategis tersebut. Namun, Iran memastikan bahwa kapal-kapal yang dianggap sebagai “musuh” tidak akan diberikan keleluasaan untuk melintas. Pernyataan ini langsung memicu gelombang kekhawatiran di pasar komoditas global, mengingat Selat Hormuz merupakan lokasi transit bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Araghchi menjelaskan bahwa kebijakan ini adalah bentuk perlindungan diri terhadap negara-negara yang terlibat dalam tekanan militer dan politik terhadap kedaulatan Iran.
“Selat Hormuz hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh Iran. Kepada mereka yang menyerang Iran dan sekutu mereka. Yang lain dipersilakan untuk lewat,” tegas Araghchi.
Meski secara diplomatik Araghchi menyebut jalur tersebut “terbuka” bagi negara non-musuh, realita di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Iran menuntut kontrol penuh atas setiap pergerakan kapal. Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, bahkan mempertegas bahwa setiap kapal yang berniat melintas wajib mendapatkan izin resmi dari otoritas Iran.
Bukan sekadar gertakan verbal, tindakan fisik telah terjadi di perairan tersebut. Pada Rabu, 11 Maret 2026, sebuah kapal berbendera Thailand bernama Mayuree Naree dilaporkan mengalami serangan setelah dituduh mengabaikan peringatan saat melintas. IRGC mengklaim bertanggung jawab atas tindakan tersebut sebagai bentuk penegakan kedaulatan di wilayah selat.
Fakta bahwa kapal-kapal dari India dan China masih dapat melintas dengan aman memperkuat narasi Iran bahwa mereka sedang melakukan “penyaringan” terhadap siapa yang boleh menggunakan jalur internasional tersebut. Namun, bagi operator pelayaran internasional, situasi ini adalah mimpi buruk logistik. Ketidakpastian mengenai siapa yang akan dianggap sebagai “musuh” oleh Iran membuat premi asuransi pelayaran melonjak tajam dan banyak perusahaan memilih untuk mengalihkan rute mereka, meski harus menanggung biaya bahan bakar yang lebih mahal.
Dampak dari “geopolitik filter” ini langsung menghantam pasar energi. Harga minyak mentah dunia jenis Brentdilaporkan terus merangkak naik dan telah menyentuh kisaran US$ 103 per barel. Lonjakan ini mencerminkan kepanikan pasar terhadap potensi gangguan suplai jangka panjang.
Sebagai respons, negara-negara besar mulai menguras cadangan minyak strategis (SPR) mereka guna menstabilkan harga dan memastikan pasokan dalam negeri tetap aman. Laporan terbaru menyebutkan bahwa pelepasan cadangan minyak global secara kolektif telah mencapai angka fantastis, yakni 400 juta barel.
Jepang, sebagai salah satu negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, dilaporkan oleh Reuters akan melepas 80 juta barel cadangan minyaknya mulai pekan ini. Langkah darurat ini diambil sebagai antisipasi terhadap hambatan suplai yang terus berlanjut di Selat Hormuz.
Para pengamat menilai bahwa langkah Iran ini sangat cerdik namun berbahaya. Dengan tidak mengumumkan blokade total, Iran mencoba menghindari alasan bagi komunitas internasional untuk melakukan intervensi militer skala besar. Namun, dengan menciptakan kondisi “aman bagi teman, bahaya bagi musuh,” Iran secara efektif memegang kendali atas ekonomi global.
Dunia kini berada dalam kondisi waspada tinggi. Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur perdagangan ekonomi, melainkan telah sepenuhnya bertransformasi menjadi alat tawar-menawar politik yang sangat kuat. Selama tensi antara Teheran dengan Washington dan Tel Aviv belum mereda, volatilitas harga energi diprediksi akan terus menghantui ekonomi dunia di sepanjang tahun 2026 ini.







