Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Kesehatan

Waspada! Pakai Earphone Terlalu Lama Bisa Sebabkan Tuli Permanen, Ini Penjelasan Dokter

Wamanews.id, 13 Juni 2025 – Penggunaan earphone atau perangkat audio personal kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, baik untuk mendengarkan musik, menonton video, hingga menghadiri rapat daring. Namun di balik kenyamanan tersebut, tersimpan bahaya yang mengintai jika pemakaiannya dilakukan dalam jangka panjang. 

Dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher (THT-KL) dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, Dr. dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT(K), memberikan peringatan keras terkait risiko gangguan pendengaran akibat penggunaan earphone yang berlebihan. Dalam diskusi kesehatan yang digelar secara daring dari Jakarta pada Kamis (12/6/2025), dr. Fikri menjelaskan secara detail bagaimana penggunaan earphone dalam durasi panjang, terutama dengan volume tinggi, bisa merusak organ pendengaran secara permanen.

Menurut dr. Fikri, kerusakan pada telinga terjadi ketika sel-sel rambut halus di dalam telinga mengalami peradangan akibat paparan suara keras dalam waktu lama. Sel-sel rambut ini berperan penting dalam mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak untuk diinterpretasikan sebagai suara.

“Jika sinyal listrik yang dihasilkan terlalu kuat karena suara yang terlalu keras, ujung saraf yang menempel di sel rambut bisa pecah dan menyebabkan kecacatan,” jelasnya.

Akibat dari kecacatan ini, kemampuan telinga dalam mengenali bunyi dengan detail secara bertahap akan menurun. Awalnya, penderitanya mungkin tidak menyadari adanya gangguan, tetapi seiring waktu kemampuan mendengar akan semakin menurun, bahkan bisa menyebabkan tuli permanen.

Data yang disampaikan dr. Fikri cukup mencengangkan. Ia menyebutkan bahwa satu dari empat orang yang sering menggunakan perangkat audio personal berisiko mengalami gangguan pendengaran.

“Orang yang biasa menggunakan perangkat mendengarkan suara personal itu resiko terjadinya gangguan pendengaran sampai 23 persen. Tapi umumnya mereka tidak menyadari adanya gangguan pendengaran sampai kerusakan sudah cukup parah,” paparnya.

Inilah yang membuat masalah ini kerap disebut sebagai “silent epidemic” atau epidemi yang berjalan diam-diam, karena banyak orang baru menyadari gangguan pendengaran setelah kondisinya cukup serius.

Untuk menghindari risiko gangguan pendengaran, dr. Fikri memberikan panduan mengenai durasi aman dalam mendengarkan suara berdasarkan tingkat kebisingan:

  • 85 desibel (setara suara lalu lintas padat): maksimal 8 jam per hari
  • 95 desibel (seperti suara blender): maksimal 4 jam
  • 100 desibel (seperti suara mesin pabrik): maksimal 2 jam
  • 105 desibel (seperti suara konser kecil): maksimal 1 jam
  • 110 desibel (seperti suara mesin gerinda): maksimal 30 menit
  • 115-120 desibel (seperti konser musik besar): maksimal 15 menit

“Penggunaan earphone sebaiknya juga dibatasi volumenya tidak lebih dari 60 persen dari volume maksimal, dan usahakan tidak digunakan secara terus-menerus,” tambah dr. Fikri.

Selain gangguan pendengaran, penggunaan earphone dalam jangka panjang juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis. Penggunaan earphone secara intens bisa membuat seseorang cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, lebih mudah stres, hingga mengalami gangguan tidur akibat stimulasi suara yang berlebihan.

“Interaksi sosial juga bisa terganggu. Orang yang terlalu sering menggunakan earphone kadang sulit fokus saat berkomunikasi secara langsung, karena terbiasa mendengarkan suara dari perangkat,” kata dr. Fikri.

Fenomena penggunaan earphone berlebihan paling banyak ditemukan pada generasi muda, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa. Oleh karena itu, dr. Fikri mengimbau orang tua, guru, dan tenaga kesehatan untuk ikut memberikan edukasi terkait bahaya penggunaan earphone dalam jangka panjang.

“Kalau sudah terkena gangguan pendengaran permanen, pengobatannya tidak murah. Alat bantu dengar hingga implan koklea bisa jadi satu-satunya pilihan,” tegasnya.

Penggunaan teknologi memang memberikan kemudahan, namun jika tidak disertai kesadaran akan risikonya, dampaknya bisa sangat serius bagi kesehatan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan generasi muda Indonesia bisa tetap menikmati teknologi dengan cara yang aman dan bertanggung jawab.

“Gunakan dengan bijak, karena telinga kita hanya satu pasang dan tak bisa digantikan,” tutup dr. Fikri.

Penulis

Related Articles

Back to top button