Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Laporan Internasional Sebut Gen Z Alami Penurunan Kebahagiaan Paling Drastis

Wamanews.id, 21 Oktober 2026 – Generasi Z (Gen Z) kini menjadi sorotan dunia setelah disebut sebagai generasi paling tidak bahagia dibandingkan generasi lain. Fakta ini terungkap dalam sejumlah studi internasional yang dirangkum media Folkative.

Data tersebut mengacu pada World Happiness Report 2024 yang mencatat adanya pergeseran pola kebahagiaan secara global. Jika selama ini anak muda identik dengan kelompok paling bahagia, kini kondisinya justru berbanding terbalik.

Di kawasan Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru, kelompok usia muda 15-24 tahun dilaporkan mengalami penurunan kepuasan hidup yang tajam. Bahkan, penurunan itu terjadi sejak masa awal penggunaan smartphone dan media sosial secara masif pada 2012 hingga 2015.

Tren ini juga dikuatkan oleh studi global yang dipimpin UNICEF pada 2025. Hasilnya, sebanyak 60 persen responden Gen Z rentang usia 14 hingga 25 tahun mengaku merasa kewalahan menghadapi situasi dunia saat ini.

Para peneliti mengidentifikasi tiga kekhawatiran utama yang membebani Gen Z. Ketiganya adalah konflik geopolitik yang terus memanas, ancaman perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada lapangan kerja.

Selain faktor eksternal, tekanan internal seperti masalah kesehatan mental dan rasa kesepian turut memperparah kondisi. Ironisnya, meski tumbuh sebagai generasi yang paling melek digital, Gen Z justru menjadi kelompok yang paling sering merasa terisolasi secara sosial.

World Happiness Report juga menemukan adanya efek generasi yang cukup serius. Generasi Boomer yang lahir sebelum 1965 memiliki tingkat kepuasan hidup 0,25 poin lebih tinggi dibanding Milenial dan Gen Z, bahkan setelah faktor usia dan keadaan hidup dikontrol.

Kecemasan iklim menjadi salah satu pemicu utama. Studi di 10 negara menunjukkan mayoritas anak muda sangat khawatir terhadap perubahan iklim, dengan lebih dari 45 persen mengaku kekhawatiran itu mengganggu aktivitas harian mereka.

Meski demikian, para ahli menegaskan temuan ini tidak bisa digeneralisasi bahwa semua anak muda Gen Z tidak bahagia. Studi ini lebih merupakan alarm tentang besarnya tantangan yang dihadapi generasi muda di era modern.

Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti menekankan peran penting koneksi sosial yang sehat. Dukungan keluarga, pertemanan yang suportif, dan lingkungan yang positif dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga kesejahteraan mental Gen Z di tengah ketidakpastian masa depan.

Penulis

Related Articles

Back to top button