Polisi Bersorban Saat Demo Tuai Kritik, Yusuf Dumdum: Profesionalisme Lebih Utama Ketimbang Atribut!

Wamanews.id, 2 Maret 2026 – Sebuah pemandangan tidak biasa menghiasi aksi demonstrasi mahasiswa di depan Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (28/2/2026). Di tengah barisan pengamanan, terlihat sejumlah aparat kepolisian mengenakan atribut keagamaan berupa peci dan sorban putih. Langkah persuasif institusi Polri ini rupanya memicu reaksi beragam dari publik, termasuk kritik pedas dari pegiat media sosial, Yusuf Dumdum.
Penampilan aparat yang dianggap sebagai upaya “pendekatan humanis-religius” tersebut justru dinilai kontraproduktif oleh Yusuf. Melalui pernyataannya yang viral, ia menyebut bahwa gaya berpakaian tersebut memberikan kesan yang aneh dan tidak mencerminkan identitas korps Bhayangkara yang seharusnya berwibawa.
Yusuf Dumdum secara terang-terangan mempertanyakan siapa di balik pemberi masukan sehingga instruksi penggunaan sorban tersebut dikeluarkan. Baginya, alih-alih meredam ketegangan, atribut tersebut justru membuat citra polisi menjadi bahan guyonan di mata masyarakat kritis.
“Saya gak tahu siapa yang beri masukan sehingga cara berpakaian polisi jadi seperti ini. Izin beri saran dan masukan, ya. Mending gak usah dandanan begini. Jadinya malah lucu dan aneh,” ujar Yusuf sebagaimana dikutip dari unggahan terbarunya, Minggu (1/3/2026).
Yusuf bahkan tidak segan memberikan perumpamaan yang cukup menggelitik. Ia merasa kasihan kepada para anggota polisi muda yang harus mengikuti aturan tersebut. “Malah kek Upin-Ipin jadinya (maaf). Kasihan polisi muda yang masih unyu-unyu didandani begini,” lanjutnya dengan nada satir.
Lebih jauh, Yusuf menyentil fenomena penggunaan simbol agama dalam tugas negara. Ia mempertanyakan apakah tren ini muncul karena isu agama dianggap masih menjadi komoditas yang “laku keras” di tengah masyarakat, sehingga institusi penegak hukum merasa perlu mengadopsinya dalam prosedur pengamanan demo.
“Entah kenapa dandannya kok bisa begini. Apakah karena jualan agama di sini laku keras atau gimana saya kurang paham. Untungnya gak dikasih jenggot palsu atau mainan. Apa jadinya polisi kita?” timpalnya.
Kritik ini menyoroti kekhawatiran bahwa penggunaan simbol keagamaan yang berlebihan justru dapat mengaburkan batas antara tugas profesional kenegaraan dengan kepentingan citra semata.
Inti dari kritik Yusuf Dumdum sebenarnya terletak pada substansi kinerja Polri. Menurutnya, masyarakat saat ini sudah jauh lebih cerdas dan objektif dalam menilai. Publik tidak lagi terpukau pada “bungkus” luar atau penampilan fisik aparat, melainkan pada integritas dan ketegasan mereka dalam menegakkan hukum.
Yusuf menekankan bahwa polisi yang berpenampilan sederhana, bahkan yang bergaya seperti “preman” namun memiliki profesionalisme tinggi, jauh lebih diapresiasi oleh rakyat.
“Masyarakat sekarang sudah cerdas. Mereka lebih bisa mengapresiasi polisi yang bergaya atau berpenampilan preman, tapi profesional dan integritasnya tak diragukan. Ketimbang yang bergaya sok suci tapi banyak yang cuma topeng doang,” tegasnya.
Meskipun kritiknya terbilang pedas, Yusuf menyatakan bahwa apa yang ia sampaikan adalah bentuk kecintaannya terhadap institusi Polri. Ia meyakini bahwa masih sangat banyak anggota polisi yang memiliki dedikasi tinggi tanpa perlu mengubah model pakaian mereka menjadi simbolik secara agama.
Baginya, wibawa polisi muncul dari sikap sebagai pengayom masyarakat yang tegas dan benar. Tampilan “garang” tidak menjadi masalah selama prosedur operasional dijalankan dengan adil dan transparan.
“Kritik dan saran saya ini semata-mata untuk kebaikan teman-teman yang bertugas di institusi Polri. Dukung Polri lebih baik,” pungkas Yusuf menutup pernyataannya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik mengenai penggunaan atribut sorban dalam pengamanan aksi mahasiswa tersebut.





