Kisah Cinta Terluka: Bisakah Tukang Selingkuh Benar-Benar Berubah? Ini Jawaban Psikolog

Wamanews.id, 19 Juli 2025 – Isu perselingkuhan selalu menjadi topik yang hangat dan menyakitkan dalam dinamika hubungan. Ketika kepercayaan dikhianati, pertanyaan besar yang sering muncul adalah: bisakah seseorang yang berulang kali melakukan perselingkuhan benar-benar “bertobat” dan menjadi setia?
Pertanyaan ini tak hanya menggelayuti mereka yang menjadi korban, tetapi juga para pelaku yang mungkin ingin berubah. Untuk mendapatkan jawaban yang lebih dalam, kita perlu melihat perspektif dari dunia psikologi. Menurut para psikolog, jawaban atas pertanyaan ini tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.
Perubahan perilaku perselingkuhan adalah proses kompleks yang sangat bergantung pada motivasi internal individu, akar masalah perselingkuhan itu sendiri, dan kesediaan untuk melakukan upaya sungguh-sungguh.
Sebelum membahas pertobatan, penting untuk memahami mengapa seseorang berselingkuh secara berulang. Perselingkuhan bukanlah sekadar masalah nafsu atau kesempatan, melainkan seringkali indikasi dari masalah yang lebih dalam, seperti:
- Masalah Psikologis yang Belum Teratasi: Ini bisa berupa kecanduan seks, narsisme, gangguan kepribadian, atau masalah attachment (kelekatan) yang membuat seseorang sulit membangun hubungan yang dalam dan berkomitmen.
- Kebutuhan Emosional yang Tidak Terpenuhi: Seseorang mungkin merasa tidak dihargai, tidak dicintai, atau kesepian dalam hubungannya, sehingga mencari pemenuhan di luar.
- Kurangnya Kemampuan Mengelola Konflik: Alih-alih menghadapi masalah dalam hubungan, seseorang mungkin memilih perselingkuhan sebagai pelarian atau cara untuk menghindari konfrontasi.
- Trauma Masa Lalu: Pengalaman traumatis di masa lalu, terutama terkait hubungan atau pengkhianatan, bisa memengaruhi cara seseorang membentuk dan mempertahankan komitmen.
- Lingkungan dan Pengaruh Sosial: Tekanan dari teman, budaya yang menormalisasi perselingkuhan, atau kesempatan yang terlalu mudah juga bisa menjadi faktor pendorong.
Psikolog menegaskan bahwa perubahan perilaku perselingkuhan adalah mungkin, namun membutuhkan komitmen yang sangat kuat dari individu yang bersangkutan. Ini bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang menuntut kejujuran dan kerja keras. Beberapa faktor kunci agar seorang “tukang selingkuh” bisa bertobat antara lain:
- Motivasi Internal yang Kuat: Perubahan tidak akan terjadi jika hanya karena paksaan atau tekanan dari pasangan. Pelaku harus memiliki keinginan tulus dari dalam diri untuk berhenti berselingkuh dan menjadi orang yang setia. Ini seringkali muncul setelah merasakan konsekuensi negatif yang besar, seperti kehilangan pasangan atau kehancuran reputasi.
- Akuntabilitas Diri dan Kejujuran: Pelaku harus jujur mengakui perbuatannya, memahami dampak yang ditimbulkan, dan bertanggung jawab penuh tanpa mencari pembenaran atau menyalahkan orang lain.
- Mengidentifikasi dan Mengatasi Akar Masalah: Ini adalah langkah paling krusial. Dibutuhkan introspeksi mendalam untuk menemukan penyebab utama perselingkuhan. Apakah itu masalah emosional, psikologis, atau kebutuhan yang tidak terpenuhi?
- Bantuan Profesional (Terapi): Bagi banyak kasus, terutama yang berulang, bantuan dari psikolog atau terapis sangat direkomendasikan. Terapi individu dapat membantu pelaku memahami pola perilakunya, mengembangkan strategi koping yang sehat, dan mengatasi masalah psikologis yang mendasari. Terapi pasangan juga penting untuk membangun kembali kepercayaan.
- Perubahan Gaya Hidup dan Lingkungan: Membangun batasan yang jelas, menghindari situasi atau lingkungan yang memicu perselingkuhan, serta menjauhi pertemanan yang mendukung perilaku negatif sangat penting.
- Kesabaran dan Komitmen Jangka Panjang: Membangun kembali kepercayaan dan mengubah pola perilaku yang sudah mendarah daging membutuhkan waktu. Baik pelaku maupun pasangan harus siap menghadapi proses yang panjang dan mungkin penuh tantangan.
Meskipun jalan menuju pertobatan bagi seorang “tukang selingkuh” memang terjal, psikolog memberikan harapan. Dengan motivasi yang benar, dukungan yang tepat, dan kerja keras yang konsisten, perubahan perilaku yang signifikan dan pembangunan kembali hubungan yang sehat adalah sesuatu yang sangat mungkin dicapai. Namun, ini adalah perjalanan yang membutuhkan komitmen dari semua pihak yang terlibat.





