Antara Nyawa dan Minyak: Kisah Pilu Pelaut yang Terjebak di ‘Neraka’ Selat Hormuz

Wamanews.id, 12 Maret 2026 – Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang biasanya sibuk oleh lalu lalang kapal tanker raksasa, kini berubah menjadi “zona maut” yang mencekam. Di balik angka-angka statistik mengenai fluktuasi harga minyak dunia dan krisis energi global, terdapat ribuan nyawa manusia yang kini bertaruh nasib di atas kapal-kapal yang terombang-ambing dalam ketidakpastian.
Salah satu kisah memilukan datang dari George Miranda, seorang pelaut asal Filipina berusia 46 tahun. Saat terakhir kali menghubungi istri dan putri kecilnya, George sedang menjalankan tugas mulia membantu sebuah kapal yang mengalami musibah di atas kapal tunda Mussafah 2. Nahas, kapalnya dihantam dua rudal saat melintasi Selat Hormuz. Hingga kini, George menjadi satu-satunya pelaut asal Filipina yang dinyatakan hilang dalam insiden tersebut.
Namun, tragedi George hanyalah puncak gunung es. Diperkirakan lebih dari 6.000 pelaut asal Filipina bersama ribuan pelaut dari negara lain masih terjebak di zona konflik tersebut. Mereka kini tertahan, menunggu “lampu hijau” yang tak kunjung menyala untuk melewati jalur pelayaran yang telah berubah menjadi ladang ranjau rudal dan drone.
Bagi mereka yang masih bertahan di atas kapal, kehidupan kini terasa seperti berada di penjara terapung. John Winston Isidro (32), seorang pelaut di kapal VLCC (Very Large Crude Carrier), menggambarkan kesehariannya yang aneh: percampuran antara rasa bosan yang luar biasa dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
“Para kru telah berhenti bekerja di dek atas untuk meminimalisir risiko jika terjadi serangan mendadak. Kami memasang sistem jaga ganda di anjungan kapal,” ujar Isidro dalam wawancara dengan AFP.
Untuk membunuh waktu dan mengalihkan rasa takut, para kru menghabiskan waktu dengan membuka media sosial, bermain gim komputer, atau menonton film berulang kali. Namun, ketenangan itu semu. Di ruang mesin, para teknisi tetap disiagakan 24 jam agar siap menghidupkan mesin kapan saja jika keadaan darurat memaksa mereka melakukan manuver cepat.
Kekhawatiran yang lebih besar dirasakan oleh Welbin Maghanoy. Kapalnya yang mengangkut minyak mentah menuju Jepang sudah terdampar selama sembilan hari di posisi 100 mil laut lepas pantai Uni Emirat Arab. Berada di atas jutaan liter bahan bakar yang mudah meledak di tengah hujan rudal adalah mimpi buruk yang nyata.
“Ini mulai membosankan dan jujur saya sedikit takut. Banyak kapal yang diserang, dan kebanyakan adalah kapal tanker minyak seperti milik kami,” tutur Welbin. Kegelisahan juga menyelimuti rekan-rekannya yang masa kontraknya hampir habis. Alih-alih merayakan kepulangan, mereka kini terperangkap di tengah kecamuk perang AS-Iran.
Kondisi ini dibenarkan oleh Judy Domingo, Presiden Serikat United Filipino Seafarers. Ia mengaku ponselnya tak berhenti berdering menerima panggilan darurat dari para pelaut yang terjebak. Selain masalah keamanan fisik dari ledakan rudal, ancaman kelaparan mulai mengintai karena pasokan makanan di atas kapal terus menipis sementara pelabuhan aman untuk bersandar sangat sulit dijangkau.
Sebuah video yang diunggah oleh pelaut dengan nama akun “Choi” memperlihatkan betapa gentingnya pilihan yang harus diambil. Dalam video yang telah diverifikasi tersebut, terlihat seorang kapten kapal mengadakan pemungutan suara (voting) di ruang konferensi untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Kapten kami menanyakan siapa yang ingin tetap nekat lewat Selat Hormuz. Kami memilih untuk pulang dalam keadaan hidup. Dari 27 orang kru, hampir semuanya menolak untuk melanjutkan pelayaran melewati jalur maut itu,” kata Choi dalam unggahannya.
Keputusan untuk tetap diam dan menunggu dianggap lebih bijaksana daripada memaksakan diri melewati selat yang sedang dijaga ketat oleh armada tempur Iran. Bagi para pelaut ini, tidak ada kargo yang lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri.
Kini, ribuan mata hanya bisa menatap cakrawala, berharap ada keajaiban diplomatik yang mampu menghentikan dentuman meriam. “Mari kita berdoa agar perang AS-Iran ini segera berakhir sehingga setiap kapal yang terjebak di sini dapat keluar dengan selamat,” pungkas Isidro dengan penuh harap.





